cbox

Open Cbox

Jumat, 18 November 2011

Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallâhu 'anhu




"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang di percayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besa". (al-Anfaal:27-28)
Menurut keterangan beberapa ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallâhu 'anhu.


Abu Lubabah termasuk salah seorang muslim pilihan yang telah membela dan menegakkan agama Islam. Dia adalah salah seorang pahlawan muslimin dalam peperangan, yang telah mempersembahkan diri dan nyawanya di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran dan meninggikan agama-Nya.
Dia dilahirkan di Yatsrib yang subur dan banyak terdapat mata air, yang banyak ditumbuhi pepohonan dan tetumbuhan yang dapat dinikmati oleh manusia dan hewan.
Kiranya tiap daerah memiliki pengaruh kuat terhadap sepak terjang seseorang dan arah pemikirannya juga. Begitu pula dengan penduduk kota Madinah. Mereka pada umumnya dikenal memiliki akhlak yang luhur, pemaaf, berperasaan halus, dan suka berbuat baik sesamanya.
Abu Lubabah termasuk laki-laki seperti itu, yang diisyaratkan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur'anul Karim.
"Dan orang-orang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (kaum muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin); dan mereka mengutamakan (kaum muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung". (al-Hasyr:9)
Isterinya adalah Khansa' binti Khanddam al-Anshariyah dari golongan al-Aus. Pada awalnya, ayahnya ingin mengawinkan putrinya itu dengan seorang dari bani Auf, namun putrinya sudah terlanjur cinta kepada Abu Lubabah. Akhirnya,ia pergi menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan melaporkan hasrat hatinya itu, lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memerintahkan kepada ayahnya supaya memberikan kebebasan kepada putrinya dalam memilih calon suaminya sendiri. Akhirnya,iapun dinikahkan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir radhiallaahu 'anhu.
Perkawinan keduanya mendapat karunia seorang anak perempuan, Lubabah namanya. Demikinlah, akhirnya Abu Lubabah menjadi panggilan ayahnya.
Lubabah diperistri oleh Zaid ibnul Khaththab radhiallaahu 'anhu yang dipercaya memegang panji kaum muslimin dalam peperangan di al-Yamamah yang mencemaskan seraya menyeru dengan suara nyaring,"Ya Allah, aku dapat menjawab dengan apa yang dikumandangkan Musailamah dan Muhkam Ibnu Thufail…..".
Dengan panji dan pedang di tangan, ia menyerang lawannya dengan tangkas dan berani sehingga ia tewas sebagai syahid. Umar ibnul Khaththab radhiallaahu 'anhu berkomentar atasnya, "Allah akan merahmati saudaraku, Zaid radhiallaahu 'anhu, insya Allah. Dia masuk Islam sebelum aku dan tewas sebagai syahid sebelum aku juga."
Abu Lubabah termasuk orang pertama yang masuk Islam, ketika beberapa orang anshar berjumpa dengan Mush'ab bin Umair di Yatsrib. Kepada mereka ditawarkan agama Islam, lalu mereka dengan spontan percaya kepada Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
Abu Lubabah salah seorang Anshor yang menghadiri bai'at al-'Aqabah II. Adapun orang pertama yang berbicara di majelis itu ialah Abbas bin Abdul Muthalib, padahal pada waktu itu ia menganut agama kaumnya (musyrik). Ini dilakukannya hanya karena ia ingin mengetahui dengan pasti dan meyakinkan kedudukan keponakannya, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam , dalam bai'at itu;Ia berkata:
"Wahai kaum Khazraj, ketahuilah bahwa Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam adalah dari golongan kami dan kami telah mempertahankannya dari kaum kami yang masih sealiran dengan kami dan ternyata dia masih tetap dimuliakan tengah-tengah kaumnya dan terlindung dari Tanah Airnya. Akan tetapi, ia tetap saja mau pergi bersama kalian ke negeri kalian. Kalau kalian benar-benar mau menepati janji akan melindunginya dari orang-orang yang tidak sepaham dengan dia maka kami akan mempercayakannya kepada janjimu itu. Akan tetapi, kalau kalian akan menyerahkannya dan tidak akan mempertahankannya dari orang-orang yang tidak sepaham dengannya, setelah dia keluar dan pergi kepada kalian, maka dari sekarang, sebaiknyalah kalian membiarkannya dalam kemuliaan dan perlindungan dari kaumnya di negeri sendiri."
Mereka berkata:"Kami telah mendengar apa yang anda katakan. Sekarang katakanlah ,wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam untuk dirimu dan Rabbmu, sesukamu!"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab,"Aku akan membai'at kalian bahwa kalian melindungiku seperti kalian melindungi isteri-isteri dan anak-anakmu".
Al-Barra' bin Ma'rur menjabat tangan beliau dan berkata,"Ya, Atas nama Yang mengutusmu dengan kebenaran, Kami berjanji akan melindungimu seperti melindungi isteri-isteri dan anak-anak kami, maka bai'atlah kami,wahai Rasulullah, karena kami sejak nenek moyang kami memang ahli perang."
Selagi Al-Barra' berbicara dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tiba-tiba Abul Haitsam bin an-Nahyan memotong pembicaraannya," wahai Rasulullah, antara kami dan segolongan kaumku (maksudnya, kaum yahudi) sudah terjalin ikatan dan kemungkinan kami memutuskannya. Apakah kalau kami memutuskannya, kemudian Allah berkenan memenangkanmu, apakah tidak mungkin engkau kembali kepada kaummu dan meniggalkan kami?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tersenyum, lalu berkata menegaskan: "Darah dibayar dengan darah dan penghancuran dibayar dengan penghancuran. Aku bagian dari kalian dan kalian juga bagian dariku . Aku akan memerangi siapa yang kalian perangi dan akan berdamai dengan siapa yang berdamai dengan kalian."
Abu Lubabah kemudian kembali ke Madinah setelah pertempurannya dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam itu. Ia merasa kagum sekali atas kepribadian dan keluhuran budi pekerti beliau. Ia kembali dari sana sebagai orang baru yang menjelma dari masa lalunya secara  keseluruhan, menjadi seorang yang berusaha keras yang merealisasikan isi Al-Qur'anul Karim dalam hidup dan sepak terjangnya.
Tidak lama setelah itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam sudah berada di tengah-tengah mereka di Madinah, menyusun syariat dan menetapkan undang-undang yang dibawa oleh Jibril dari Rabbnya. Ternyata, kaum muslimin menyambutnya dengan gegap gempita, tidak seorangpun merasa berkeberatan atau hendak menyelewengkannya sedikitpun.
Tak lama setelah itu, perang badar pun pecah antara kaum musyrikin dan kaum muslimin pilihan Allah Ta'ala itu. Abu Lubabah mengetahui persiapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam , lalu ia mempersiapkan dirinya dan pergi menyandangkan senjatanya hendak menemui kaum kafir Quraisy bersama dengan kaum muslimin. Akan tetapi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak mengizinkan Abu Lubabah pergi bersamanya, tetapi ia diamanatkan mewakilinya di Madinah. Penjagaan keamanan dan ketertiban kota itu tidak kurang pentingnya dengan perang di medan laga. Ia di beri tanggung jawab memelihara keamanan dan keselamatan penduduk kota Madinah, anak-anak, kaum wanita, dan semua orang yang ada di dalamnya. Ia juga diberi amanat menjaga keamanan dan keselamatan buah-buahan, perkebunan, dan perbatasannya. Ia diberi tanggung jawab memberi warganya yang sedang kelaparan, memenuhi semua kebutuhan yang ada, baik anak-anak maupun oran tua, sampai pasukan yang berada di jalan Allah itu kembali.
Abu Lubabah mematuhi perintah dan pengarahan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dengan baik. Ia memimpin kota Madinah dengan baik, mempersiapkan juga bekal yang mungkin dibutuhkan oleh pasukan yang sedang berperang, dan menggalakkan pembuatan senjata perang siang dan malam, sehingga pasukan kaum muslimin memiliki persenjataan dan perbekalan yang lengkap.
Tiap hari, ia pergi keluar kota Madinah untuk mengetahui terlebih dahulu berita jihad kaum muslimin. Akhirnya, berita kemenangan yang gilang-gemilang itu sampai diterimanya, lalu ia pergi bergegas-gegas memasuki kota untuk menyampaikan berita kemenangan itu. Penduduk kota Madinah bersuka cita dan bersyukur kepada Allah Ta'ala yang telah memenangkan saudara-saudaranya melawan musuh-musuhnya yang jauh lebih lengkap dan kuat. Akan tetapi, ada sekelompok penduduk kota Madinah yang tidak bergembira atas kemenangan yang telah diraih kaum muslimin itu. Mereka adalah orang-orang yang senang bermain di gelap gulita, orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, namun menutup mata dan telinganya darinya. Mereka adalah segolongan kaum yahudi yang bertetangga dengan kaum muslimin di Madinah, yang dengan terang-terangan memperlihatkan rasa dengki dan hasudnya atas kemenangan yang diraih kaum muslimin dan tidak segan-segan melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati.
Setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mendengar dan melihat gelagat yang diperlihatkan kaum yahudi di Madinah, beliau lalu memerintahkan wakil-wakilnya untuk mengadakan pertemuan di sebuah pasar di perkampungan Bani Qainuqa', seraya berkata,"Apa yang menimpa kaum Quraisy hendaknya dijadikan pelajaran yang harus diwaspadai. Kalian sudah mengetahui bahwa aku ini adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah."
Mereka menjawab dengan lantang,"Hai Muhammad, janganlah kau takabbur atas kemenangan yang engkau peroleh melawan orang-orang yang tidak memiliki keahlian dalam peperangan, lalu engkau berhasil memenangkannya".
Ini merupakan ketegangan pertama dan terang-terangan antara kaum Yahudi dan kaum muslimin. Sesudah itu disusul kasus wanita muslimah yang sedang duduk di depan toko perhiasan seorang yahudi di pasar Bani Qainuqa', menunggu perhiasannya diselesaikan. Datanglah seorang diantara mereka menindihkan baju besinya dibagian belakang rok wanita itu sedangkan wanita itu tidak menyadarinya. Ketika ia bangun, tiba-tiba roknya tertarik kebelakang dan auratnyapun terlihat. Mereka sertamerta menertawakannya. Seorang muslim yang sedang kebetulan ada di tempat itu tidak sabar melihat peristiwa keji itu, lalu ia melompat dan membunuh salah seorang dari mereka.
Dengan demikian, mereka telah melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam karena takut pada dosanya itu, mereka mengurung diri dalam perbentengannya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan para sahabatnya datang mengepungnya selama lima belas hari. Akhirnya, mereka pun keluar dan menyatakan siap menerima hukumannya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bermaksud hendak membunuh mereka. Mereka adalah sekutu golongan Khazraj. Abdullah bin Abi Salul lalu menghampiri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan berbicara dengan beliau tentang mereka, seraya memasukkan tangannya ke dalam kantong Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam marah sekali kepadanya seraya menghardiknya,"Lepaskan aku!"
Dia menjawab,"Aku tidak akan melepaskanmu hingga kau berbuat baik terhadap para sekutuku; 400 orang tak bersenjata dan 300 orang bersenjata lengkap. Mereka telah melindungiku dari berbagai peperangan yang memusnahkan segalanya dan aku khawatir terhadap masa depanku."
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, bersabda lagi: "Mereka aku serahkan kepadamu! Keluarkan mereka, Allah melaknat mereka dan laknat Allah bersama dengan mereka."
Mereka diusir keluar dari kota Madinah oleh Ubadah bin ash-Shamit. Mereka pergi menuju Adzri'at di negeri Syam. Tidak lama setelah itu, mereka pun tewas di sana.
Pada waktu pengepungan terhadap perbentengan Bani Qainuqa' itu, Abu Lubabah diserahi tugas memimpin kota Madinah. Ternyata, dia melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kami sudah berbicara tentang perang badar, bagaimana kaum muslimin dalam perang itu telah meraih kemenangan gilang gemilang dan dan bagaimana kaum musyrikin hancur luluh disana.
Sisa pasukan yang hancur itu kembali ke Mekah dibawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb yang setelah perang itu bernazar tidak akan membasahi rambutnya dengan air jinabah hingga berhasil membalas memerangi Muhammad. Tak lama setelah itu, ia keluar dengan dua ratus pasukan berkuda kaum Quraisy untuk memenuhi nazarnya itu hingga ke pinggiran kota Madinah pada malam hari.
Pasukan kaum musyrikin dalam perang badar berjumlah hampir seribu orang. Walaupun begitu, mereka kembali dengan membawa kekalahan yang memalukan, lalu mengapa Abu Sufyan malah datang ke pinggiran kota Madinah dengan pasukan yang jauh lebih sedikit?.
Kesimpulan yang bisa ditarik dari ulah Abu Sufyan itu adalah bahwa ia hanya menebus sumpahnya saja, bukan ingin mengadakan peperangan dengan kaum muslimin. Ia datang diam-diam pada malam hari menemui pimpinan yahudi Bani an-Nadhir di bawah pimpinan Salam bin Misykam. Walau pun begitu, beritanya tercium juga akhirnya.
Pada malam itu juga pasukan tersebut pergi membakar kebun korma dan membunuh seorang anshor sekutu yahudi Bani an-Nadhir itu dan kembali ke Mekah.
Mendengar berita itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mengerahkan pasukannya untuk mengejar pasukan Abu Sufyan dan sekali lagi beliau mengangkat Abu Lubabah menjadi pimpinan pemerintahan di Madinah, namun pasukan kaum musyrikin itu tidak terkejar.
 
Abu Sufyan tahu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak akan membiarkannya lari begitu saja. Ia melarikan kudanya dengan kecepatan yang diharapkan, ia meninggalkan sebagian perbekalannya supaya jangan sampai terkejar dan tertangkap.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan para sahabatnya kembali ke Madinah menunggu kesempatan baik untuk memberikan palajaran kepada para perusuh itu.
Bagi orang yang mengamati sejarah Islam, selama masa itu akan berkesimpulan bahwa Abu Lubabah adalah seorang mukmin yang jujur, seorang pejuang yang ikhlas kepada agama, Nabi, dan Rabbnya.
Dalam penyerbuan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam ke perbentengan yahudi Bani Quraizhah, Abu Lubabah ikut bersama beliau dan pimpinan pemerintahan di Madinah diserahkan kepada Abdullah ibnu Ummi Maktum.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersama para sahabatnya mengepung benteng Bani Quraizhah itu selama 25 malam sehingga mereka hidup dalam kekurangan dan ketakutan.
Setelah mereka meyakini bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tidak akan membiarkan mereka tanpa hukuman, akhirnya Ka'ab bin Asad bertindak sebagai penengah untuk mereka. Ia berkata:"Wahai orang-orang yahudi! kalian sudah mengetahui petaka apa yang telah menimpa kalian dan aku mencoba menawarkan tiga hal; terserah kalian untuk memilih yang mana diantaranya yang kalian senangi."
"Apa itu ?"
Kita mengikuti Muhammad dan mempercayainya. Demi Allah! sebenarnya kalian sudah mengetahui bahwa dia adalah seorang Nabi dan Rasul Allah, dan bahwa ciri-cirinya sudah dinyatakan dalam kitab kalian. Dengan demikian, kalian telah mengamankan darah, harta, anak-anak, dan istri-istri kalian semuanya.
"Kami tidak akan meninggalkan hukum taurat dan tidak akan menggantikannya dengan hukum lainnya hingga kapanpun".
"Kalau kalian menolak usulku itu, baiklah kita membunuh anak-anak dan istri-istri kita, lalu kita keluar dengan pedang terhunus melawan Muhammad dan para sahabatnya tanpa meninggalkan rasa berat sedikit pun, hingga Allah menentukan siapa diantara kita yang menjadi pemenangnya. Kalau kita tewas, kita tewas tanpa meninggalkan keturunan yang kita khawatirkan di belakang hari dan kalau kita menang, kita yakin masih bisa mendapatkan perempuan dan masih bisa mendapatkan anak-anak lagi".
"Apakah kita akan membunuh anak-anak dan istri-istri kita? Apa artinya hidup tanpa mereka?"
"Kalau kalian menolak juga usulku itu, ketahuilah bahwa malam ini adalah malam sabtu. Mungkin kalau kalian keluar menemui Muhammad dan para sahabatnya, mereka akan mau mengampuni kalian".
Mereka lalu mengirim seorang utusan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam meminta Abu Lubabah bin Abdil Mundzir dikirimkan kepada mereka untuk dimintakan pendapatnya karena mereka sekutu golongan kalian".
Mengapa Abu Lubabah ? Apa yang mungkin diberikan kepada mereka oleh sahabat yang mulia ini?
Mungkinkah sahabat ini akan mengkhianati Rasulullah dan mendurhakai Rabbnya, lalu memberikan nasihat yang bukan-bukan pada kaum yahudi itu?
Hal ini karena kedudukan seorang penasihat itu harus dapat dipercaya. Semua hukum dan syariatpun menyatakan demikian. Sedangkan, kaum yahudi ingin menjadikan Abu Lubabah sebagai penasihatnya.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memerintahkan kepada Abu Lubabah untuk pergi menemui hasrat mereka. Abu Lubabah pergi menemui pimpinan kaum yahudi itu. Begitu anak-anak dan istri-istri mereka melihat Abu Lubabah datang, mereka menangis meraung-raung memohon belas kasihannya. Sudah tentu, Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa menyembunyikan rasa iba dan harunya kepada mereka.
Kami sudah mengatakan bahwa penduduk Madinah pada umumnya berhati lembut dan berjiwa pemaaf, kasih sayangnya sesamanya menggebu-gebu.
Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa tidak terpengaruh oleh peristiwa itu. Begitu pimpinan yahudi bertanya kepadanya, "Apakah anda menyetujui hukuman Muhammad?". Ia menjawab:"Ya", Seraya mengisyaratkan dengan tangannya ke lehernya, yakni mereka akan dibunuh.
Abu Lubabah berkata: "Demi Allah! belum beranjak kedua kakiku dari tempatnya melainkan aku menyadari bahwa aku sudah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam".
Abu Lubabah lalu pergi ke masjid an-Nabawi dan tidak menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam lagi. Ia mengikatkan dirinya di salah sebuah tiangnya di sana, seraya berkata: "Aku tidak akan meninggalkan tempatku ini sehingga Allah mengampuni apa yang telah aku perbuat dan telah bersumpah tidak akan pergi lagi ke perkampungan Bani Quraizhah, dan aku tidak akan melihat negeri yang pernah aku berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya untuk selama-lamanya".
Baiklah, kita tinggalkan Abu Lubabah yang mengikatkan dirinya pada salah sebuah tiang masjid an-Nabawi dan mengikuti hukum apa yang dikenakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam kepada yahudi Bani Quraizhah itu.
Esok paginya, mereka keluar dari perbentengannya untuk menerima keputusan dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam; berdatanganlah pimpinan golongan al-Aus menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam. Mereka mengeluh, "wahai Rasulullah! mereka dahulu sekutu kami melawan al-Khazraj dan baginda telah berbuat terhadap sekutu saudara-saudara kami kemarin seperti yang baginda ketahui".
Sesudah pimpinan al-Aus berbicara dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, beliau bertanya kepada mereka: "Wahai pimpinan al-Aus, Apakah kalian ridha jika yang memberikan hukuman itu seorang dari kalian sendiri?".
Mereka menjawab,"Ya, ridha".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda: "panggil Sa'ad bin Mu'adz kesini!".
Mereka memanggilnya dan berkata: "wahai Aba Umar! Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam memanggil anda menyerahkan hukuman sekutumu kepadamu".
Sa'ad menjawab: "Kalian harus menyatakan sumpah setia kepada Allah Ta'ala bahwa kalian akan menerima keputusanku".
Mereka menjawab,"Ya, kami menerimamu".
Sa'ad selanjutnya bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam: "Apakah keputusanku akan diterima sebagai keputusan yang sah?".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam pun menjawab: "Ya, Kami akan menerimamu".
Sa'ad berkata: "Saya memutuskan agar semua laki-lakinya dibunuh, harta bendanya dirampas dan dibagi-bagikan, dan wanita-wanitanya di tawan".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda kepadanya: "Engkau telah menjatuhkan hukuman terhadap mereka dengan hukuman Allah dari atas langit yang ketujuh!".
Adapun kepada Abu Lubabah telah diberikan ampunan, baik Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam maupun dari Allah Ta'ala, dan dia pun ikut aktif bersama kaum muslimin lainnya dalam berbagai kerja dan peperangannya. Dalam penaklukan kota Mekah, ia memegang panji Bani Amru bin Auf dan ia menyaksikan masuknya orang berbondong-bondong ke dalam agama Islam. Demikianlah akhirnya, ia kembali ke rahmatullah pada zaman pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallaahu 'anhu. semoga Allah Ta'ala menempatkannya di dalam surga-Nya, sesuai dengan jasa dan baktinya kepada agama Islam dan kaum muslimin.
Sebab Turunnya Ayat
Menurut sebagian mufasirin, ayat tersebut diturunkan untuk Abu Lubabah bin Abdil Mundzir al-Anshari. Hal itu terjadi ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam sedang mengepung perbentengan Yahudi Bani Quraizhah selama 21 malam. Mereka lalu memohon berdamai dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam seperti yang pernah diberikan kepada saudara-saudaranya di Bani an-Nadhir………,mereka mohon diizinkan keluar dari Madinah untuk menyusul saudara-saudaranya ke Adzri'at atau ke Ariha di negeri Syam. Akan tetapi, mereka menolak menerima keputusannya. Mereka berkata, "Kami meminta Abu Lubabah dikirimkan kepada kami. Dia seorang sahabat karib dengan kami. Dahulu, harta dan anak-anaknya bersama dengan kami. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam lalu mengirimkannya kepada mereka.
Mereka bertanya kepadanya: "wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu, apakah kami akan tunduk kepada keputusan Sa'ad Bin Mu'adz?"
Abu Lubabah lalu mengisyaratkan kepada mereka dengan tangannya ke lehernya bahwa mereka akan disembelih, berarti jangan mau menerima.
Abu Lubabah berkata: "Demi Allah, kedua kakiku belum beranjak dari tempatku melainkan telah mengetahui bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya". Lalu, turunlah ayat itu.
Sesudah ayat itu turun maka ia memperkeras ikatannya pada pilar masjid an-Nabawi, seraya berkata: "Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati atau Allah mengampuni dosaku itu".
Sudah tujuh hari lamanya ia tidak memakan makanan sehingga tidak sadarkan diri, kemudian Allah mengampuninya. Lalu, ada yang menyampaikan berita itu kepadanya, "wahai Abu Lubabah, Allah telah mengampuni dosamu!".
Ia berkata: "Tidak. Aku tidak akan membuka ikatanku  sebelum Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam datang membukanya".
Tak lama setelah itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam pun datang membukanya. Abu Lubabah lalu berkata kepadanya: "Kiranya akan sempurna tobatku kalau aku meninggalkan kampung halaman kaumku tempat aku melakukan dosa di sana dan aku sumbangkan seluruh hartaku?".
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawabnya: " Kau hanya dibenarkan menyumbangkan sepertiganya saja" .
Menurut riwayat ibnu Hisyam, sesudah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam mendengar ceritanya, hal itu sudah agak terlambat benar, maka beliau bersabda: "Kalau dia datang menemuiku, tentu aku akan memohonkan ampunan untuknya. Akan tetapi, karena ia bertindak sendiri maka aku tidak mungkin bisa melepaskannya dari tempatnya sehingga Allah melepaskannya".
Ada yang mengatakan bahwa di terimanya tobat Abu Lubabah diberitahukan oleh Allah kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam ketika beliau berada di rumah Abu Salamah radhiallaahu 'anhu, Istri Abu Salamah, berkata: "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam tertawa pada waktu sahur aku bertanya: 'wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam, apa gerangan yang baginda tertawakan? 'Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab, 'Allah telah mengampuni dosa Abu Lubabah. 'Aku bertanya kepadanya: 'Apakah aku boleh menyampaikan berita gembira itu kepadanya?. 'Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam menjawab: 'Boleh saja kalau kau mau'. Dia lalu berdiri di pintu kamarnya; kejadian itu terjadi sebelum kewajiban berhijab diundangkan.
Aku berkata: 'wahai Abu Lubabah, bergemberilah, Allah telah mengampuni dosamu'.
Setelah itu, banyaklah orang yang datang hendak melepaskan ikatannya, namun ia menolak seraya berkata: 'Tidak. Demi Allah, aku tidak mau sebelum Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam datang membebaskan aku dengan tangannya'.
Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam hendak shalat shubuh, baginda menghampirinya dan membukakan ikatannya".
Adapun ayat yang melepaskannya dari dosa ialah firman-Nya:
"Dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan yang lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang".(at-Taubah:102)
Renungan
Amanat adalah salah satu keutamaan seorang muslim yang lahir dari akidahnya dan yang membuktikan pada kejujuran hidupnya dan kemuliaan tujuannya. Karena itulah, amanat merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari keimanan dan berkhianat sebagai pertanda ingkar dan kafir, seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam.
"Tidak beriman siapa yang tidak memiliki amanat dan tidak beragama siapa yang tidak bisa dipegang janjinya".
Amanat merupakan salah satu sifat orang baik dan salah sebuah unsur kesempurnaan pribadi, firman-Nya:
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya". ( al-Mu'minuun:8)
Dibawakan oleh Ubadah bin ash-Shamit radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda:
"Jamin untukku enam perkara, aku akan menjamin untuk kalian surga: 1). berbicaralah dengan jujur, 2). Tepatilah janjimu, 3). Tunaikanlah amanatmu, 4). Tundukanlah pandanganmu, 5). Peliharalah kemaluanmu, dan 6). Peliharalah tangan (tindakkan)mu".
Memisahkan diri dari keutamaan itu berarti memisahkan orang tersebut dari semua keutamaan, meskipun tidak bisa disangkal bahwa anak-anak Adam adalah pelaku kesalahan. Hal itu merupakan tabiat manusia yang tidak bisa di ingkari lagi dan tidak mungkin bisa ditutup-tutupi.
Bertolak dari sanalah dicurahkan perhatian Allah kepada manusia ini, manusia yang kepadanya Allah memerintahkan malaikat-Nya bersujud, Yang mengangkatnya menjadi khalifah-Nya dimika bumi, dan yang memuliakannya diatas semua mahluk-Nya serta dipercaya untuk memakmurkan alam ini.
Manusia bisa meningkatkan harkat dan martabat ke kelas malaikat kalau ia berpegang teguh kepada ajaran Agama Islam, namun ia bisa saja merosot ke kelas setan kalau ia menjauhkan diri dari ajaran Allah. Hikmah Allah menetapkan karena kasih-Nya kepada manusia-untuk mengirimkan para rasul dan munurunkan beberapa buah  Kitab-Nya adalah untuk menggiring manusia itu ke jalan-Nya yang lurus. Kalau sudah agak lama tidak turun nabi atau rasul, lalu manusia beranggapan bahwa selama masa itu tidak ada hisab dan tidak ada hukuman.
Karena itulah, manusia selalu diberi peringatan supaya tidak terjerumus ke dalam tindakan yang di haramkan Rabbnya, yang selalu diperintahkan untuk dijauhinya, Firman-Nya:
"Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (adz-Dzaariyaat:55)
"Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan". (al-Ghaasyiyah:21)
Shalat yang di wajibkan sehari semalam lima waktu itu untuk mendekatkannya dengan Rabbnya, untuk senantiasa mengingatkan dan menyadarkannya.
Sungguhpun begitu, manusia selalu tergoda oleh gemerlapnya kehidupan duniawi ini. Ia mudah dibujuk rayu oleh setan untuk meninggalkan ajaran Rabbnya. Akhirnya, ia pun tersesat. Akan tetapi, kalau dalam hati nuraninya masih terdapat setitik keimanan, ia masih mudah digiring kembali ke jalan Allah, lalu ia kembali bertobat dan beristighfar kepada Rabbnya, Firman-Nya:
"Katakanlah Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: 'janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .'"(az-Zumar:53)
Berkat ampunan dan kasih sayang Allah Ta'ala, manusia yang semula berlumuran dosa itu menjadi seorang maKhluk yang paling mulia, sesuai dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam,"Sebaik-baik pelaku kesalahan ialah yang bertobat".
Dalam hal ini, Abu Lubabah radhiallaahu 'anhu adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam yang hatinya didapati oleh keimanan. Ia termasuk orang pertama yang masuk Islam, yang menyambut panggilan Allah Ta'ala, namun ia tergelincir seperti halnya manusia lain ketika hatinya sedang lemah dan jiwanya sedang lengah, lalu ia berbuat sesuatu yang menimbulkan Allah dan Rasul-Nya gusar kepadanya karena ia memberi isyarat kepada orang-orang Yahudi bekas sekutunya di jaman jahiliyah supaya tidak mau menerima hukum yang hendak di berikan Rasulullah karena hal itu berati hukuman mati bagi mereka.
Begitu awan mendung itu hilang diembus angin maka percikan cahaya menyinari kalbunya kembali. Pada saat itulah kesadarannya pulih kembali dan mulai merasakan bahwa ia telah terperosok mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, lalu ia menghukum dirinya sebagai kifarat atas dosanya, Firman-Nya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) Janganlah kamu mengkhianati amanat-amanatyang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui". (al-Anfaal:27)
Khianat kepada Allah Ta'ala dan kepada Rasul-Nya, dengan menjauhkan diri dari hidayah Allah dan hidayah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam artinya menolak melaksanakan syariat Allah dalam kehidupan dan mengabaikan apa-apa yang diwajibkan kepadanya, baik berupa kewajiban maupun ibadah-ibadah lainnya.
Khianat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti tidak membulatkan keikhlasan dan kesetiaan, lalu menyekutukan-Nya dengan kekuata-kekuatan lain yang tidak mampu memberikan manfaat dan mudarat, yang tidak bisa menentukan mati, hidup, dan kebangkitan, Firman-Nya:
"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun walaupun mereka satu untuk menciptakannya. Dan, jika lalat itu, merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyebabkan dan amat lemah (pulalah) yang disembah".(al-Hajj:73).
Induk semua khianat ialah kalau kita mengorupsi kewajiban kita atau meninggalkannya sama sekali, atau kita berpura-pura beriman padahal hati kita kafir, atau mengkhianati orang yang mempercayakan hal ihwalnya kepada kita, atau kita tidak menepati janji setia kawan kita. Padahal, Islam sudah jelas-jelas anti khianat dan mencemoohkan para pengkhianat yang suka melanggar janjinya. Islam juga tidak menyukai orang muslim yang mengkhianati janjinya demi mencapai maksudnya, meskipun maksudnya itu mulia, Firman-Nya :
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membaalkan sumpah-sumpah (mu) itu sesudah meneguhkannya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat". (an-Nahl:91) 
Amanat pemerintahan harus diberikan kepada orang-orang yang dapat dipercaya, yang kuat, yang cakap memerintah, dan ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Kalau ia memajukan orang yang seharusnya dimundurkan atau memundurkan orang yang seharusnya dimajukan maka orang itu telah mengundang maklumat perang dari Allah dan Rasul-Nya.
Yazid bin Abi Sufyan berkata bahwa Abu Bakar ash-Ashiddiq radhiallaahu 'anhu berkata ketika mengutusnya ke Syam: "wahai Yazid! Sesungguhnya engkau mempunyai kerabat karib; mungkin engkau utamakan mereka dengan memberikan kekuasaan (pemerintahan), itulah yang saya takutkan atasmu setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam bersabda:"Siapa yang diberi kuasa mengurus kepentingan kaum muslimin, Lalu ia mengangkat seseorang dengan bertindak tidak jujur, maka laknat Allah baginya dan Allah tidak akan menerima tebusan atau imbalan pun hingga orang itu dimasukkan ke dalam api neraka".
Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam dan bertanya kepadanya: "Kapan datangnya hari kiamat itu?"
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa aalihi wasallam  menjawab: "Bilamana amanat sudah dihilangkan maka tunggulah saat (kehancuran) itu!"
Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana amanat itu di hilangkan?"
Baginda menjelaskan: "Apabila kekuasaan diserahkan kepada bukan ahlinya".
Harta kekayaan negara adalah amanat di tangan penguasa. Penguasa berkewajiban untuk menempatkan di tempatnya dan menafkahkan sesuai dengan keperluannya, demi kepentingan rakyat dan masyarakatnya. Kalau ia berbuat lain dari itu, maka ia telah berkhianatdan telah melenceng dari syariat Allah.
Kapan kiranya bendera amanat dan keamanan berkibar di tengah-tengah kaum muslimin? Kapan kaum muslimin akan merasa aman atas tanah airnya sehingga tidak merasa khawatir terhadap bumi dan hasil buminya dirampok orang sehingga harta benda dan kekayaan buminya tidak dirampas orang dari depan matanya?
Kapan kehormatan umat dan masyarakatnya tidak dirobek-robek oleh media massa cetak dan elektronik yang terarah serta terpimpin karena hilangnya nilai-nilai dan akhlaknya? Ya, kapan hal itu akan terwujud? Kapan hal itu akan terjadi,Ya Rabb?.

Abu Hurairah radhiallahu 'anhu


OTAKNYA MENJADI GUDANG PERBENDAHARAAN  PADA MASA WAHYU

Memang benar, bahwa kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan penghargaan…
Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka…….Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan …..Abu Hurairah r.a. mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam segi menghafal dan menyimpan…. Didengarya, ditampungnya lalu terpatri  dalam  ingatannya  hingga dihafalkannya,  hampir tak pemah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta eriwayatkannya.
Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw. mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenararnya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah "hadits", dengan menggunakan kata-kata: -- "Berkata Abu Hurairah... "
Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw.  menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya:')
Di sana Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya……
******
Setiap anda mendengar muballigh atau penceramah atau khatib Jum'at mengatakan kalimat yang mengesankan dari Abu Hurairah r.a berkata ia, telah bersabda Rasulullah saw …..." Saya katakan ketika andamendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fiqih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka diketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi, antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabdanya…..Karena itulah perbendaharaannya yang menakjubkan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi·saw. jarang diperoleh bandingannya ... Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah merupakan salah seorang  paling mampu membawa anda ke hari-hari  kehidupan Rasulullah saw beserta para sahabatnya dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang membuktikan kehebatan Muhammad saw. beserta shahabat-shahabatnya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan pikiran sehat. Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut……
Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakannya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan…..
Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan …. ! Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa …. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata: -
"Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin .... Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku · · ! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian .... Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat…..!"
***** *
Ia datang kepada Nabi saw di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan …. Dan semenjak ia bertemu dengan Nabi Saw; dan berbai'at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur .... Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw. yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: "Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pendengaran... !'          
*****
Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.
Pahlawan perang dikalangan shahabat, banyak....
Ahli fiqih, juru da'wah dan para guru juga tidak sedikit ....

Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya,jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementingkan tulis menulis. Dan tulis menulis itu belum Lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.
Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajnya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf, tak tahu tulis baca, padahal menurut ukuran masa itu, mereka memiIiki kecerdasan dan kemampuan besar....
*****
Kembali kita pada pembicaraan bermula untuk melihat Abu Hurairah, baganana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.
Sebenamya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempata atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak punya perniagaan yang akan diurus....
Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya .. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do'a Rasul ""·, agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.
Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian ....
****
Abu Hurairah bukan tegolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalahseorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan .... Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah hengan Rasul, baik dalam perjalanan maupun di kala menetap....
Begitulah  ia  mempermahir  dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah saw dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul'Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan Hadits hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadits-hadits ini, kapan didengarya dan diendapkannya dalam ingatannya ....
Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari putra shahabatnya, maka katanya: "Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan Hadits dari Nabi saw.... Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan hadits-hadits itu…..? Ketahuilah, bahwa shahabat-sahahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk degan tanah pertanian mereka…..Sedang  aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen ...dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan...
Dan Nabi saw. pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau:
"Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan  terlupa  akan suatu pun dari apa yang  telah didengarya dari padaku,.. !"
Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya ... ! Demi Allah kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat) ….. !"
Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw.
Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.
Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat....

Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya.  Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya ... !
Oleh sebab itulah ia harus saja memberitakan, tak suatupun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya ... hingga pada suatu hari Amirul Mu'minin Umar berkata kepadanya: "Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari  Rasulullah!  Bila tidak, maka akan  kukembalikan  kau ke tanah Daus... !" (yaitu tanah kaum dan keluarganya).
Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan  dari.suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali al-quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran….
Al-quran adalah kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya dan terlalu banyaknya' cerita tentang Rasulullah saw. teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya Nabi saw., saat sedang dihimpunnya Al-Quran, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan campur-baur yang tidak berguna dan tak perlu terjadi ... !
Oleh karena ini, Umar berpesan: "Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran karena dia adalah kalam Allah…"'·. Dan katanya lagi : "Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!"
Dan sewaktu beliau mngutus Abu Musa al-Asy'ari ke Irak ia berpesan,kepadanya: -- 'Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al-quran seperti suara lebah. maka biarkanlah seperti itu dan jangan anda binbangkan merek adengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini….!"
Al-qur'an sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dirembesi oleh hal-hal lainnya….. Adapun hadits, maka umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah SAW dan merugikan Agama Islam…..
Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.
Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pemah didengar dan ditangkapnya tetap saja disampaikan dan dikatakannya....
******
Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan Hadits-hadits dari Rasul saw. dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka'ab al-ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.
*****
Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits  dari Rasusullah saw. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya  Abu  Hurairah kembali dan dimintanya membacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah  ditulis sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau agak sepatah kata pun ……..!
Ia berkata tentang dirinya: -- "Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak ..; ". Dan Imam Syafi'i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: -- "la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits sesamanya". Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: --"Ada delapan  ratus orang atau lebih dari shahabat tabi'in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah".
Demikianlah Abu hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya ....
Abu Wuiairah termasuk orang ahli ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula-mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya... " Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat!
Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk menyertai Rasul saw. ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Dan pernah ia menceritakan kepada kita bagaimana rasa lapar telah menggigit-gigit perutnya, maka diikatkannya batu dengan surbannya ke perutnya dan ditekannnya ulu hatinya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia di mesjid rambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian sahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan .. .!
Semenjak ia menganut Islam tak ada yang memberatkan dan menekan perasaan Abu Huraiiah dari berbagai persoalan hidupnya ini, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya, karena waktu itu ia menolak untuk masuk Islam .... Bukan hanya sampai di sana saja, bahkan ia menyakitkan perasaannya dengan menjelek-jelekkan Rasulullah di depannya…
Pada suatu hari ibunya itu kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bagi Abu Hurairah tentang Rasulullah saw., hingga ia tak dapat menahan tangisnya dikarenakan sedihnya, lalu ia pergi ke mesjid Rasul....Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan berita kejadian itu sebagai berikut:
Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah, lalu kataku: --''Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk islam, Ajaranku itu ditolaknya, dan hari ini aku pun baru saja, memintanya masuk Islam. Sebagai jawaban ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri Anda. Karenanya mohon anda du'akan kepada Allah kiranya ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam…."
Maka Rasulullah saw. berdu'a: "Ya Alloh tunjukkilah ibu Abu Hurairah!"
Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang du'a Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran hunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: "Hai Abu Hurairah, tunggulah ditempatmu itu... !"
Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan membalutkan selendangnya sambil mengucapkan: "Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan  'abduhu wa Rasuluh
Aku pun segera berlari menemui Rasulullah raw. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka, dan kataku padanya: "Kusampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabullkan du'a anda ..., Allah telah menunjuki ibuku ke dalam islam ... ". Kemudian kataku pula: "Ya Rasulallah, mohon anda du'akan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mu'min, baik laki-laki maupun perempuan!" Maka Rasul berdu'a: "Ya Allah,  mohon  engkau jadikan hambu-Mu  ini beserta ibunya dikasihi oleh sekalian orang-orang Mumin, laki-laki dan perempuan ...!"
*****
Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid ... tak pernah ia ketinggalan dalam perang, dan tidak pula dari ibadat. Di zaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai amir untuk daerah Bahrain, sedang Umar sebagaimana kita ketahui adalah seorang yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya.  Apabila ia mengangkat seseorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaian maka sewaktu meninggalkan jabatannya nanti haruslah orang itu hanya mempunyai dua pasang pakaian juga…… malah lebih utama kalau ia hanya memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun kekayaan itu berasal dari jalan halal yang dibolehkan syara'! Suatu dunia lain …. Yang diisi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumkan… Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrain ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui oleh Umar, maka iapun dipanggilnya datang ke Madinah…...Dan mari kita dengarkan Abu Hurairah, memaparkan soal jawab ketus yang berlangsung antaranya dengan Amirul Mu'minin Umar: -- Kata Umar: - "Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah  mencuri harta Allah?'· Jawabku;.  "Aku bukan musuh Allah dan tidak pula musuh kitab-Nya ._.hanya aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah . . !'·- Dari mana,kau peroleh sepuluh ribu itu? -- Kuda kepunyaanku beranak-pinak dan pemberian orang berdatangan ....   Kembalikan harta itu ke perbendaharaan negara (baitul maal)... !
Abu Hurairah menyerahkan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdu'a: "Ya Allah, ampunilah Amirul Mu'minin
Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil Abu Hurairah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf  karena tak dapat menerimanya. Kata Umar kepadanya: -- "Kenapa, apa sebabnya?" Jawab Abu Hurairah: "Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul... !"
Kemudian katanya lagi: "Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih ... !"
Pada suatu hari sangatlah rindu Abu Hurairah hendak bertemu dengan Allah .... Selagi orang-orang yang mengunjunginya mendu'akannya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang-ulang memohan kepada Allah dengan berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku telah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu,
Semoga Engkau pun demikian ... !" Dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 Hijriyah ia pun berpulang ke rahmatullah.
Di sekeliling orang-orang shaleh penghuni pandam pekuburan Baqi', di tempat yang beroleh berkah, di sanalah jasadnya dibaringkan ... ! Dan sementara orang-orang yang mengiringkan jenazahnya kembali dari pekuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hentinya membaca Hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasul yang mulia……..
Salah seorang di antara mereka yang baru masuk islam bertanya kepada temannya: "Kenapa syekh kita yang telah berpulang ini diberi gelar Abu Hurairah (bapak kucing)? Tentutemannya yang telah mengetahui akan menjawabnya: ·'Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang
selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang bayangnya. Inilah sebabnya ia diheri gelar "Bapak Kucing", moga-moga Allah ridla kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah……..!



Darklight

 
Design by Wordpress Themes | Bloggerized by Free Blogger Templates | Macys Printable Coupons