Tampilkan postingan dengan label Aku Ingin Bertaubat Tetapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Ingin Bertaubat Tetapi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Februari 2012
Rabu, 23 Februari 2011
Mereka Mengancamku
Engkau mungkin berkata, “Aku ingin bertaubat tetapi teman-teman lamaku
mengancam untuk membuka masa laluku dan menyebarkan rahasiaku
kepada semua orang. Mereka memiliki gambar-gambar dan surat-surat lain yang
dapat dipergunakan untuk melawanku. Aku khawatir akan reputasiku, dan aku
takut.”
Nasihat kami adalah: Lawanlah kembali sekutu-sekutu syaithan ini. Tipu daya
syaithan adalah lemah, dan semua tekanan yang dibawakan oleh para
penolong-penolong iblis terhadapmu akan hancur di hadapan kesabaran dan
kesungguhan seorang Mu’min sejati.
Engkau harus menyadari bahwa jika engkau mencoba untuk berdamai dengan
mereka, hal ini hanya akan memberi mereka lebih banyak bukti yang dapat
dipergunakan menghadapimu, dan engkau akan menjadi orang yang merugi
mengancam untuk membuka masa laluku dan menyebarkan rahasiaku
kepada semua orang. Mereka memiliki gambar-gambar dan surat-surat lain yang
dapat dipergunakan untuk melawanku. Aku khawatir akan reputasiku, dan aku
takut.”
Nasihat kami adalah: Lawanlah kembali sekutu-sekutu syaithan ini. Tipu daya
syaithan adalah lemah, dan semua tekanan yang dibawakan oleh para
penolong-penolong iblis terhadapmu akan hancur di hadapan kesabaran dan
kesungguhan seorang Mu’min sejati.
Engkau harus menyadari bahwa jika engkau mencoba untuk berdamai dengan
mereka, hal ini hanya akan memberi mereka lebih banyak bukti yang dapat
dipergunakan menghadapimu, dan engkau akan menjadi orang yang merugi
cepat atau lambat. Jangan berikan perhatian apapun kepada mereka, mintalahpertolongan kepada Allah untuk menghadapi mereka dan katakan: “Hasbi Allah
wa ni’mal wakil” (Allah sebaik-baik Pelindung bagiku, dan Dialah sebaik-baik
Penolong). Ketika Nabi merasa takut terhadap suatu kaum, beliau berkata:
wa ni’mal wakil” (Allah sebaik-baik Pelindung bagiku, dan Dialah sebaik-baik
Penolong). Ketika Nabi merasa takut terhadap suatu kaum, beliau berkata:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu untuk menangkap mereka pada lehernya, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud; lihat juga Shahih Al-Jami’, 4582)
Benar bahwa ini adalah keadaan yang sangat sulit. Ambillah contoh dari
seorang gadis yang telah bertaubat, tetapi bekas pacarnya meneleponnya dan
mengancamnya dengan berkata, “Aku telah merekam pembicaraan kita dan aku
mempunyai foto-fotomu. Jika kamu menolak untuk keluar denganku, maka aku
akan mempermalukanmu di hadapan keluargamu. Dia tentu saja berada pada
posisi yang tidak akan membuat iri (maksudnya orang lain tentu tidak ingin
berada pada situasi seperti itu –pent.).
Lihatlah bagaimana cara sekutu-sekutu syaithan mengerahkan perang psikis
terhadap para penyanyi, aktor, pria dan wanita, yang telah bertaubat. Mereka
menyebarluaskan produksi mereka sebelumnya di pasar, untuk menekan
mereka. Tetapi Allah menyertai orang-orang yang takut kepada-Nya dan orangorang
yang bertaubat. Dia adalah teman dan penolong orang-orang Mu’min. Dia
tidak akan mengabaikan atau meninggalkan mereka. Tidak pernah seseorang
yang memohon perlindungan-Nya ditolak. Ingatlah bahwa bersama dengan
kesukaran ada kemudahan dan dalam kesulitan ada jalan keluar.
Kisah yang menyentuh berikut ini memberikan kesaksian yang jelas dalam
mendukung apa yang telah kita katakan. Ini adalah kisah kepahlawanan sahabat
yang mulia Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi, yang menolong orang-orang
Muslim yang tertindas pergi dari Makkah menuju Madinah secara sembunyisembunyi.
Ada seorang laki-laki yang dipanggil Marthad bin Abi Marthad yang biasa
menyelundupkan tawanan perang Muslim dari Makkah ke Madinah. Ada seorang
pelacur di Makkah bernama ‘Aanaq, yang dulunya merupakan teman Marthad.
Martahd berjanji untuk membawa salah seorang tawanan dari Makkah ke
Madinah. Dia berkata, “Aku tiba pada bayangan salah satu kebun Makkah pada
malam purnama, kemudian ‘Aanaq datang dan melihat bayanganku di kebun.
Ketika dia menemuiku, dia mengenaliku dan berkata. “Marthad?” Aku berkata,
“Marthad.” Dia berkata, “Selamat datang! Kemarilah dan tinggallah bersama
kami malam ini.” Aku berkata, “Wahai ‘Aanaq, Allah telah mengharamkan
zina.” Dia berteriak, “Hai orang-orang di dalam kemah! Orang ini hendak
membawa lari tawananmu!” Delapan orang laki-laki mengejarku, dan aku
memanjat Al-Khandamah (sebuah gunung diluar salah satu pintu masuk menuju Makkah) dan bersembunyi di sebuah gua. Mereka datang dan berdiri tepat di
atasku, tetapi Allah membutakan mereka dan mereka tidak melihatku, lalu
mereka pergi. Aku kembali kepada sahabatku (tawanan yang hendak dibawa ke
Madinah) dan mengangkatnya dan dia adalah laki-laki yang gemuk. Ketika kami
sampai di Al-Udzkhar, aku membebaskan dia dari rantai yang mengikatnya. Dan
kemudian aku membawanya lagi dan perjalanan itu sangat sulit. Ketika aku
sampai di Madinah, aku mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah,
haruskah aku menikahi ‘Aanaq?” Aku bertanya kepada beliau dua kali.
Rasulullah tetap diam dan tidak menjawabku, sampai diturunkan ayat:
seorang gadis yang telah bertaubat, tetapi bekas pacarnya meneleponnya dan
mengancamnya dengan berkata, “Aku telah merekam pembicaraan kita dan aku
mempunyai foto-fotomu. Jika kamu menolak untuk keluar denganku, maka aku
akan mempermalukanmu di hadapan keluargamu. Dia tentu saja berada pada
posisi yang tidak akan membuat iri (maksudnya orang lain tentu tidak ingin
berada pada situasi seperti itu –pent.).
Lihatlah bagaimana cara sekutu-sekutu syaithan mengerahkan perang psikis
terhadap para penyanyi, aktor, pria dan wanita, yang telah bertaubat. Mereka
menyebarluaskan produksi mereka sebelumnya di pasar, untuk menekan
mereka. Tetapi Allah menyertai orang-orang yang takut kepada-Nya dan orangorang
yang bertaubat. Dia adalah teman dan penolong orang-orang Mu’min. Dia
tidak akan mengabaikan atau meninggalkan mereka. Tidak pernah seseorang
yang memohon perlindungan-Nya ditolak. Ingatlah bahwa bersama dengan
kesukaran ada kemudahan dan dalam kesulitan ada jalan keluar.
Kisah yang menyentuh berikut ini memberikan kesaksian yang jelas dalam
mendukung apa yang telah kita katakan. Ini adalah kisah kepahlawanan sahabat
yang mulia Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi, yang menolong orang-orang
Muslim yang tertindas pergi dari Makkah menuju Madinah secara sembunyisembunyi.
Ada seorang laki-laki yang dipanggil Marthad bin Abi Marthad yang biasa
menyelundupkan tawanan perang Muslim dari Makkah ke Madinah. Ada seorang
pelacur di Makkah bernama ‘Aanaq, yang dulunya merupakan teman Marthad.
Martahd berjanji untuk membawa salah seorang tawanan dari Makkah ke
Madinah. Dia berkata, “Aku tiba pada bayangan salah satu kebun Makkah pada
malam purnama, kemudian ‘Aanaq datang dan melihat bayanganku di kebun.
Ketika dia menemuiku, dia mengenaliku dan berkata. “Marthad?” Aku berkata,
“Marthad.” Dia berkata, “Selamat datang! Kemarilah dan tinggallah bersama
kami malam ini.” Aku berkata, “Wahai ‘Aanaq, Allah telah mengharamkan
zina.” Dia berteriak, “Hai orang-orang di dalam kemah! Orang ini hendak
membawa lari tawananmu!” Delapan orang laki-laki mengejarku, dan aku
memanjat Al-Khandamah (sebuah gunung diluar salah satu pintu masuk menuju Makkah) dan bersembunyi di sebuah gua. Mereka datang dan berdiri tepat di
atasku, tetapi Allah membutakan mereka dan mereka tidak melihatku, lalu
mereka pergi. Aku kembali kepada sahabatku (tawanan yang hendak dibawa ke
Madinah) dan mengangkatnya dan dia adalah laki-laki yang gemuk. Ketika kami
sampai di Al-Udzkhar, aku membebaskan dia dari rantai yang mengikatnya. Dan
kemudian aku membawanya lagi dan perjalanan itu sangat sulit. Ketika aku
sampai di Madinah, aku mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah,
haruskah aku menikahi ‘Aanaq?” Aku bertanya kepada beliau dua kali.
Rasulullah tetap diam dan tidak menjawabku, sampai diturunkan ayat:
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina,
atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini
melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian
itu diharamkan atas orang-orang yang mu'min.” (QS An-Nuur [24] : 3)
Rasulullah berkata,
“Wahai Marthad, laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau yang musryrik, dan perempuan berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Jangan kawini dia.” Shahih Sunan At-Tirmidzi, 3/80).
Apakah engkau melihat bagaimana Allah melindungi orang-orang beriman dan
bagaimana Dia menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan?
Namun jika yang terburuk datang pada yang terburuk, dan apa yang engkau
takutkan terjadi – mereka menyebarluaskan keburukan tentang dirimu – apa
yang perlu engkau lakukan adalah bersikap jujur dan menjelaskan keadaanmu
kepada orang lain. Katakan kepada mereka, “Ya, aku dahulu adalah seorang
pelaku maksiat, namun sekarang aku telah bertaubat. Lalu apa yang kalian
inginkan?”
Kita semua harus mengingat bahwa kehinaan yang sebenarnya akan muncul
tidak di dunia ini, tetapi pada Hari Kiamat, pada Hari Perhitungan, Hari
Kehinaan yang besar, tidak dihadapan satu atau dua ratus orang, tidak
dihadapan seribu atau dua ribu orang, namun dihadapan seluruh mahluk,
malaikat, jin, dan manusia, semua manusia dari Adam sampai yang terakhir.Marilah mengingat doa Nabi Ibrahim :
bagaimana Dia menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan?
Namun jika yang terburuk datang pada yang terburuk, dan apa yang engkau
takutkan terjadi – mereka menyebarluaskan keburukan tentang dirimu – apa
yang perlu engkau lakukan adalah bersikap jujur dan menjelaskan keadaanmu
kepada orang lain. Katakan kepada mereka, “Ya, aku dahulu adalah seorang
pelaku maksiat, namun sekarang aku telah bertaubat. Lalu apa yang kalian
inginkan?”
Kita semua harus mengingat bahwa kehinaan yang sebenarnya akan muncul
tidak di dunia ini, tetapi pada Hari Kiamat, pada Hari Perhitungan, Hari
Kehinaan yang besar, tidak dihadapan satu atau dua ratus orang, tidak
dihadapan seribu atau dua ribu orang, namun dihadapan seluruh mahluk,
malaikat, jin, dan manusia, semua manusia dari Adam sampai yang terakhir.Marilah mengingat doa Nabi Ibrahim :
“dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di
hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS Asy-Syu’ara [26] : 87-89)
Pada saat-saat tertekan, mohonlah pertolongan dengan doa Nabi :
Allahumma stur ‘auraatuna wa aamin rauaatuna. Allahumma aj’al tha’ranaa ‘ala man
zalamanana wansurna ‘ala man baghiya ‘alaynaa. Allahumma laa tushammit
binaa’-a’daa wa laa’l-hasidiin.
zalamanana wansurna ‘ala man baghiya ‘alaynaa. Allahumma laa tushammit
binaa’-a’daa wa laa’l-hasidiin.
(Ya Allah, tutupilah kesalahanku dan tenangkanlah ketakutanku. Ya Allah balaskanlah kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan Berikanlah kami kemenangan atas orang-orang yang menyalahi kami. Ya Allah janganlah jadikan penyebab bagi musuh-musuh kami atau orang-orang yang membenci kami bergembira atas kemalangan kami).”
Posted in: Aku Ingin Bertaubat TetapiSelasa, 22 Februari 2011
Orang-orang Jahat Mengejarku
engkau mungkin berkata, “Aku ingin bertaubat, tetapi teman-teman jahat
mengejarku kemanapun aku pergi. Segera setelah mereka mengetahui ada
perubahan yang kuperbuat, mereka menyerangku dan aku merasa terlalu lemah
untuk melawan mereka. Apa yang dapat aku lakukan?”
Jawaban kami adalah: Hadapilah dengan kesabaran, karena demikianlah
memberikan cobaan terhadap hamba-Nya yang ikhlas, sehingga Dia dapat yang
benar dan yang berdusta, yang baik dan yang buruk.
Setelah mengambil langkah pertama di atas jalan yang lurus, teguhkan dan
pertahankanlah. Orang-orang ini adalah syaithan dari kalangan manusia dan jin
yang akan tolong-menolong satu dengan yang lainnya untuk menyesatkanmu
dari jalan itu. Jangan perhatikan mereka. Pada tahap awal, mereka akan
mengatakan kepadamu bahwa ini hanyalah khayalan sesaat, krisis sementara
kepada Allah untuk menghadapi mereka dan katakan: “Hasbi Allah
wa ni’mal wakil” (Allah sebaik-baik Pelindung bagiku, dan Dialah sebaik-baik
Penolong). Ketika Nabi merasa takut terhadap suatu kaum, beliau berkata:
seorang gadis yang telah bertaubat, tetapi bekas pacarnya meneleponnya dan
mengancamnya dengan berkata, “Aku telah merekam pembicaraan kita dan aku
mempunyai foto-fotomu. Jika kamu menolak untuk keluar denganku, maka aku
akan mempermalukanmu di hadapan keluargamu. Dia tentu saja berada pada
posisi yang tidak akan membuat iri (maksudnya orang lain tentu tidak ingin
berada pada situasi seperti itu –pent.).
Lihatlah bagaimana cara sekutu-sekutu syaithan mengerahkan perang psikis
terhadap para penyanyi, aktor, pria dan wanita, yang telah bertaubat. Mereka
menyebarluaskan produksi mereka sebelumnya di pasar, untuk menekan
mereka. Tetapi Allah menyertai orang-orang yang takut kepada-Nya dan orangorang
yang bertaubat. Dia adalah teman dan penolong orang-orang Mu’min. Dia
tidak akan mengabaikan atau meninggalkan mereka. Tidak pernah seseorang
yang memohon perlindungan-Nya ditolak. Ingatlah bahwa bersama dengan
kesukaran ada kemudahan dan dalam kesulitan ada jalan keluar.
Kisah yang menyentuh berikut ini memberikan kesaksian yang jelas dalam
mendukung apa yang telah kita katakan. Ini adalah kisah kepahlawanan sahabat
yang mulia Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi, yang menolong orang-orang
Muslim yang tertindas pergi dari Makkah menuju Madinah secara sembunyisembunyi.
Ada seorang laki-laki yang dipanggil Marthad bin Abi Marthad yang biasa
menyelundupkan tawanan perang Muslim dari Makkah ke Madinah. Ada seorang
pelacur di Makkah bernama ‘Aanaq, yang dulunya merupakan teman Marthad.
Martahd berjanji untuk membawa salah seorang tawanan dari Makkah ke
Madinah. Dia berkata, “Aku tiba pada bayangan salah satu kebun Makkah pada
malam purnama, kemudian ‘Aanaq datang dan melihat bayanganku di kebun.
Ketika dia menemuiku, dia mengenaliku dan berkata. “Marthad?” Aku berkata,
“Marthad.” Dia berkata, “Selamat datang! Kemarilah dan tinggallah bersama
kami malam ini.” Aku berkata, “Wahai ‘Aanaq, Allah telah mengharamkan
zina.” Dia berteriak, “Hai orang-orang di dalam kemah! Orang ini hendak
membawa lari tawananmu!” Delapan orang laki-laki mengejarku, dan aku
memanjat Al-Khandamah (sebuah gunung diluar salah satu pintu masuk menuju Makkah) dan bersembunyi di sebuah gua. Mereka datang dan berdiri tepat di
atasku, tetapi Allah membutakan mereka dan mereka tidak melihatku, lalu
mereka pergi. Aku kembali kepada sahabatku (tawanan yang hendak dibawa ke
Madinah) dan mengangkatnya dan dia adalah laki-laki yang gemuk. Ketika kami
sampai di Al-Udzkhar, aku membebaskan dia dari rantai yang mengikatnya. Dan
kemudian aku membawanya lagi dan perjalanan itu sangat sulit. Ketika aku
sampai di Madinah, aku mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah,
haruskah aku menikahi ‘Aanaq?” Aku bertanya kepada beliau dua kali.
Rasulullah tetap diam dan tidak menjawabku, sampai diturunkan ayat:
“Wahai Marthad, laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau yang musryrik, dan perempuan berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Jangan kawini dia.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 3/80).
Apakah engkau melihat bagaimana Allah melindungi orang-orang beriman dan
bagaimana Dia menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan?
Namun jika yang terburuk datang pada yang terburuk, dan apa yang engkau
takutkan terjadi – mereka menyebarluaskan keburukan tentang dirimu – apa
yang perlu engkau lakukan adalah bersikap jujur dan menjelaskan keadaanmu
kepada orang lain. Katakan kepada mereka, “Ya, aku dahulu adalah seorang
pelaku maksiat, namun sekarang aku telah bertaubat. Lalu apa yang kalian
inginkan?”
Kita semua harus mengingat bahwa kehinaan yang sebenarnya akan muncul
tidak di dunia ini, tetapi pada Hari Kiamat, pada Hari Perhitungan, Hari
Kehinaan yang besar, tidak dihadapan satu atau dua ratus orang, tidak
dihadapan seribu atau dua ribu orang, namun dihadapan seluruh mahluk,
malaikat, jin, dan manusia, semua manusia dari Adam sampai yang terakhir.
Marilah mengingat doa Nabi Ibrahim :
mengejarku kemanapun aku pergi. Segera setelah mereka mengetahui ada
perubahan yang kuperbuat, mereka menyerangku dan aku merasa terlalu lemah
untuk melawan mereka. Apa yang dapat aku lakukan?”
Jawaban kami adalah: Hadapilah dengan kesabaran, karena demikianlah
memberikan cobaan terhadap hamba-Nya yang ikhlas, sehingga Dia dapat yang
benar dan yang berdusta, yang baik dan yang buruk.
Setelah mengambil langkah pertama di atas jalan yang lurus, teguhkan dan
pertahankanlah. Orang-orang ini adalah syaithan dari kalangan manusia dan jin
yang akan tolong-menolong satu dengan yang lainnya untuk menyesatkanmu
dari jalan itu. Jangan perhatikan mereka. Pada tahap awal, mereka akan
mengatakan kepadamu bahwa ini hanyalah khayalan sesaat, krisis sementara
kepada Allah untuk menghadapi mereka dan katakan: “Hasbi Allah
wa ni’mal wakil” (Allah sebaik-baik Pelindung bagiku, dan Dialah sebaik-baik
Penolong). Ketika Nabi merasa takut terhadap suatu kaum, beliau berkata:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu untuk menangkap mereka pada lehernya,Benar bahwa ini adalah keadaan yang sangat sulit. Ambillah contoh dari
dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (Diriwayatkan oleh
Ahmad dan Abu Dawud; lihat juga Shahih Al-Jami’, 4582)
seorang gadis yang telah bertaubat, tetapi bekas pacarnya meneleponnya dan
mengancamnya dengan berkata, “Aku telah merekam pembicaraan kita dan aku
mempunyai foto-fotomu. Jika kamu menolak untuk keluar denganku, maka aku
akan mempermalukanmu di hadapan keluargamu. Dia tentu saja berada pada
posisi yang tidak akan membuat iri (maksudnya orang lain tentu tidak ingin
berada pada situasi seperti itu –pent.).
Lihatlah bagaimana cara sekutu-sekutu syaithan mengerahkan perang psikis
terhadap para penyanyi, aktor, pria dan wanita, yang telah bertaubat. Mereka
menyebarluaskan produksi mereka sebelumnya di pasar, untuk menekan
mereka. Tetapi Allah menyertai orang-orang yang takut kepada-Nya dan orangorang
yang bertaubat. Dia adalah teman dan penolong orang-orang Mu’min. Dia
tidak akan mengabaikan atau meninggalkan mereka. Tidak pernah seseorang
yang memohon perlindungan-Nya ditolak. Ingatlah bahwa bersama dengan
kesukaran ada kemudahan dan dalam kesulitan ada jalan keluar.
Kisah yang menyentuh berikut ini memberikan kesaksian yang jelas dalam
mendukung apa yang telah kita katakan. Ini adalah kisah kepahlawanan sahabat
yang mulia Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi, yang menolong orang-orang
Muslim yang tertindas pergi dari Makkah menuju Madinah secara sembunyisembunyi.
Ada seorang laki-laki yang dipanggil Marthad bin Abi Marthad yang biasa
menyelundupkan tawanan perang Muslim dari Makkah ke Madinah. Ada seorang
pelacur di Makkah bernama ‘Aanaq, yang dulunya merupakan teman Marthad.
Martahd berjanji untuk membawa salah seorang tawanan dari Makkah ke
Madinah. Dia berkata, “Aku tiba pada bayangan salah satu kebun Makkah pada
malam purnama, kemudian ‘Aanaq datang dan melihat bayanganku di kebun.
Ketika dia menemuiku, dia mengenaliku dan berkata. “Marthad?” Aku berkata,
“Marthad.” Dia berkata, “Selamat datang! Kemarilah dan tinggallah bersama
kami malam ini.” Aku berkata, “Wahai ‘Aanaq, Allah telah mengharamkan
zina.” Dia berteriak, “Hai orang-orang di dalam kemah! Orang ini hendak
membawa lari tawananmu!” Delapan orang laki-laki mengejarku, dan aku
memanjat Al-Khandamah (sebuah gunung diluar salah satu pintu masuk menuju Makkah) dan bersembunyi di sebuah gua. Mereka datang dan berdiri tepat di
atasku, tetapi Allah membutakan mereka dan mereka tidak melihatku, lalu
mereka pergi. Aku kembali kepada sahabatku (tawanan yang hendak dibawa ke
Madinah) dan mengangkatnya dan dia adalah laki-laki yang gemuk. Ketika kami
sampai di Al-Udzkhar, aku membebaskan dia dari rantai yang mengikatnya. Dan
kemudian aku membawanya lagi dan perjalanan itu sangat sulit. Ketika aku
sampai di Madinah, aku mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah,
haruskah aku menikahi ‘Aanaq?” Aku bertanya kepada beliau dua kali.
Rasulullah tetap diam dan tidak menjawabku, sampai diturunkan ayat:
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina,Rasulullah berkata,
atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini
melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian
itu diharamkan atas oran-orang yang mu'min.” (QS An-Nuur [24] : 3)
“Wahai Marthad, laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau yang musryrik, dan perempuan berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Jangan kawini dia.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 3/80).
Apakah engkau melihat bagaimana Allah melindungi orang-orang beriman dan
bagaimana Dia menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan?
Namun jika yang terburuk datang pada yang terburuk, dan apa yang engkau
takutkan terjadi – mereka menyebarluaskan keburukan tentang dirimu – apa
yang perlu engkau lakukan adalah bersikap jujur dan menjelaskan keadaanmu
kepada orang lain. Katakan kepada mereka, “Ya, aku dahulu adalah seorang
pelaku maksiat, namun sekarang aku telah bertaubat. Lalu apa yang kalian
inginkan?”
Kita semua harus mengingat bahwa kehinaan yang sebenarnya akan muncul
tidak di dunia ini, tetapi pada Hari Kiamat, pada Hari Perhitungan, Hari
Kehinaan yang besar, tidak dihadapan satu atau dua ratus orang, tidak
dihadapan seribu atau dua ribu orang, namun dihadapan seluruh mahluk,
malaikat, jin, dan manusia, semua manusia dari Adam sampai yang terakhir.
Marilah mengingat doa Nabi Ibrahim :
Pada saat-saat tertekan, mohonlah pertolongan dengan doa Nabi :“dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS Asy-Syu’ara [26] : 87-89)
Allahumma stur ‘auraatuna wa aamin rauaatuna. Allahumma aj’al tha’ranaa ‘ala man zalamanana wansurna ‘ala man baghiya ‘alaynaa. Allahumma laa tushammit binaa’-a’daa wa laa’l-hasidiin. (Ya Allah, tutupilah kesalahanku dan
tenangkanlah ketakutanku. Ya Allah balaskanlah kami atas orang-orang yang
menganiaya kami, dan Berikanlah kami kemenangan atas orang-orang yang
menyalahi kami. Ya Allah janganlah jadikan penyebab bagi musuh-musuh kami
atau orang-orang yang membenci kami bergembira atas kemalangan kami).”
Posted in: Aku Ingin Bertaubat TetapiHaruskah Aku Mengaku Dosa?
seseorang berkata dengan penuh kesedihan, “Aku ingin bertaubat, namun
apakah aku harus pergi dan mengakui dosa-dosa yang telah aku lakukan?
Apakah ini syarat untuk bertaubat bahwa aku harus memberitahu hakim (qadhi)
di pengadilan mengenai segala hal yang telah aku lakukan, dan memintanya
untuk melaksanakan hukuman yang pantas kepadaku? Apa makna dari kisah
yang baru saja aku baca mengenai taubat Ma’iz dan wanita Ghamidi dan
tentang laki-laki yang mencium seorang wanita di sebuah taman?”
Jawabanku terhadapmu adalah bahwa seorang hamba berhubungan langsung
dengan Allah, tanpa perantara, merupakan salah satu aspek yang paling
penting dalam iman terhadap Tauhid yang dengannya Allah ridhai. Allah
berfirman:
Jika kita meyakini bahwa taubat hanya kepada Allah, maka pengakuan pun
hanya kepada Allah. Bahkan Nabi mengucapkan dalam doanya memohon
ampunan:
Demi kemuliaan Allah, kita tidak seperti orang-orang Kristen, dengan pendeta,
tempat pengakuan dosa, dokumen pengampunan, dan lain-lain.
Sungguh, Allah telah berfirman:
Adapun menerima hukuman, jika amalan (dosa) itu tidak mendapat perhatian
resmi dari Imam, penguasa, atau qadhi, seseorang tidak perlu datang kepada
mereka dan mengakuinya. Jika Allah telah menutupi dosa seseorang, tidak
mengapa baginya menutupi dosanya sendiri. Cukup baginya bertaubat kepada
Allah, dan perkaranya antara dia dengan Tuhannya. Salah satu nama Allah
adalah As-Sittir, berarti Dia yang Maha Menutupi atau menyembunyikan
(kesalahan hamba-Nya), dan Dia menyukai hamba-Nya untuk
menyembunyikannya. Mengenai sahabat Ma’iz, wanita Ghamidi dan laki-laki
yang mencium gadis di taman, mereka semua melakukan sesuatu yang tidak
diwajibkan atas mereka untuk dilakukan, semoga Allah meridhai mereka
semuanya, karena mereka sangat ingin mensucikan diri mereka. Dalil untuk hal
ini adalah kenyataan bahwa Nabi berpaling, dari Ma’iz dan dari wanita
Ghamidi pada awalnya. Ketika Umar berkata kepada laki-laki yang telah
mencium gadis di taman, “Allah telah menutupi dosanya. Seharusnya dia
sendiri menutupi dosanya,” Nabi tetap diam, menunjukkan bahwa beliau
setuju dengan perkataan itu.
Maka tidak perlu pergi ke pengadilan dan mendaftarkan pengakuan resmi, jika
Allah telah menutupi dosa seseorang. Juga tidak perlu datang kepada imam
sebuah masjid untuk meminta kepadanya melaksanakan hukuman yang sesuai,
atau meminta seorang kawan untuk melaksanakan hukuman cambuk di dalam
rumah, sebagaimana yang dibayangkan sebagian orang.
Kisah berikut ini akan mengajarkan kepadamu bagaimana pentingnya bersikap
hati-hati terhadap sikap sebagian orang yang jahil terhadap orang-orang yang
bertaubat; seorang laki-laki yang ingin bertaubat datang kepada seorang imam
masjid yang jahil, mengakui dosa kepadanya dan bertanya apa yang harus dia
lakukan. Imam itu berkata, “Pergilah ke pengadilan dan akuilah dosamu secara
resmi. Mereka akan melaksanakan hukuman yang sesuai kepadamu. Kemudian
kita akan lihat apa yang akan kita lakukan setelahnya.” Laki-laki yang malang
ini menyadari bahwa dia tidak dapat melakukan hal ini, sehingga ia melupakan
niatnya untuk bertaubat dan kembali kepada jalan yang dulu ditempuhnya.
Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk menambahkan sebuah komentar
yang penting; mengetahui hukum-hukum Islam, dan mencarinya melalui
sumber-sumber yang benar adalah yang terpercaya. Allah berfirman:
Tidak semua khatib (imam) memiliki kemampuan untuk mengeluarkan fatwa.
Tidak semua imam, muadzin, penceramah atau penutur kisah, memiliki
kemampuan untuk menjalankan hukum kepada manusia. Tetapi seorang Muslim
bertanggung jawab untuk mengetahui darimana dia dapat mengambil hukum.
Ini adalah perkara penting dalam agama. Nabi takut terhadap apa yang akan
menimpa umatnya di tangan imam yang sesat. Salah seorang salaf berkata:
“Ilmu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambil
agamamu.” Berhati-hatilah terhadap perangkap ini, dan hanya berkonsultasi
kepada ulama yang terpercaya jika engkau berada dalam keraguan mengenai
sebuah perkara. Wallahu musta’an.
apakah aku harus pergi dan mengakui dosa-dosa yang telah aku lakukan?
Apakah ini syarat untuk bertaubat bahwa aku harus memberitahu hakim (qadhi)
di pengadilan mengenai segala hal yang telah aku lakukan, dan memintanya
untuk melaksanakan hukuman yang pantas kepadaku? Apa makna dari kisah
yang baru saja aku baca mengenai taubat Ma’iz dan wanita Ghamidi dan
tentang laki-laki yang mencium seorang wanita di sebuah taman?”
Jawabanku terhadapmu adalah bahwa seorang hamba berhubungan langsung
dengan Allah, tanpa perantara, merupakan salah satu aspek yang paling
penting dalam iman terhadap Tauhid yang dengannya Allah ridhai. Allah
berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku,” (QS Al-Baqarah [2] : 186)
Jika kita meyakini bahwa taubat hanya kepada Allah, maka pengakuan pun
hanya kepada Allah. Bahkan Nabi mengucapkan dalam doanya memohon
ampunan:
“…aku mengakui kepada-Mu nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku kepada-Mu…” (HR Bukhari). Ini adalah pengakuan kepada Allah.
Demi kemuliaan Allah, kita tidak seperti orang-orang Kristen, dengan pendeta,
tempat pengakuan dosa, dokumen pengampunan, dan lain-lain.
Sungguh, Allah telah berfirman:
“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hambahamba-Nya…” (QS At-Taubah [9] : 104)Dia menerima taubat hamba-Nya tanpa mediator atau perantara.
Adapun menerima hukuman, jika amalan (dosa) itu tidak mendapat perhatian
resmi dari Imam, penguasa, atau qadhi, seseorang tidak perlu datang kepada
mereka dan mengakuinya. Jika Allah telah menutupi dosa seseorang, tidak
mengapa baginya menutupi dosanya sendiri. Cukup baginya bertaubat kepada
Allah, dan perkaranya antara dia dengan Tuhannya. Salah satu nama Allah
adalah As-Sittir, berarti Dia yang Maha Menutupi atau menyembunyikan
(kesalahan hamba-Nya), dan Dia menyukai hamba-Nya untuk
menyembunyikannya. Mengenai sahabat Ma’iz, wanita Ghamidi dan laki-laki
yang mencium gadis di taman, mereka semua melakukan sesuatu yang tidak
diwajibkan atas mereka untuk dilakukan, semoga Allah meridhai mereka
semuanya, karena mereka sangat ingin mensucikan diri mereka. Dalil untuk hal
ini adalah kenyataan bahwa Nabi berpaling, dari Ma’iz dan dari wanita
Ghamidi pada awalnya. Ketika Umar berkata kepada laki-laki yang telah
mencium gadis di taman, “Allah telah menutupi dosanya. Seharusnya dia
sendiri menutupi dosanya,” Nabi tetap diam, menunjukkan bahwa beliau
setuju dengan perkataan itu.
Maka tidak perlu pergi ke pengadilan dan mendaftarkan pengakuan resmi, jika
Allah telah menutupi dosa seseorang. Juga tidak perlu datang kepada imam
sebuah masjid untuk meminta kepadanya melaksanakan hukuman yang sesuai,
atau meminta seorang kawan untuk melaksanakan hukuman cambuk di dalam
rumah, sebagaimana yang dibayangkan sebagian orang.
Kisah berikut ini akan mengajarkan kepadamu bagaimana pentingnya bersikap
hati-hati terhadap sikap sebagian orang yang jahil terhadap orang-orang yang
bertaubat; seorang laki-laki yang ingin bertaubat datang kepada seorang imam
masjid yang jahil, mengakui dosa kepadanya dan bertanya apa yang harus dia
lakukan. Imam itu berkata, “Pergilah ke pengadilan dan akuilah dosamu secara
resmi. Mereka akan melaksanakan hukuman yang sesuai kepadamu. Kemudian
kita akan lihat apa yang akan kita lakukan setelahnya.” Laki-laki yang malang
ini menyadari bahwa dia tidak dapat melakukan hal ini, sehingga ia melupakan
niatnya untuk bertaubat dan kembali kepada jalan yang dulu ditempuhnya.
Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk menambahkan sebuah komentar
yang penting; mengetahui hukum-hukum Islam, dan mencarinya melalui
sumber-sumber yang benar adalah yang terpercaya. Allah berfirman:
“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS An-Nah [16] : 43)
“(Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” (QS Al-Furqan [25] : 59)
Tidak semua khatib (imam) memiliki kemampuan untuk mengeluarkan fatwa.
Tidak semua imam, muadzin, penceramah atau penutur kisah, memiliki
kemampuan untuk menjalankan hukum kepada manusia. Tetapi seorang Muslim
bertanggung jawab untuk mengetahui darimana dia dapat mengambil hukum.
Ini adalah perkara penting dalam agama. Nabi takut terhadap apa yang akan
menimpa umatnya di tangan imam yang sesat. Salah seorang salaf berkata:
“Ilmu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambil
agamamu.” Berhati-hatilah terhadap perangkap ini, dan hanya berkonsultasi
kepada ulama yang terpercaya jika engkau berada dalam keraguan mengenai
sebuah perkara. Wallahu musta’an.
Posted in: Aku Ingin Bertaubat TetapiBahaya Meremehkan Dosa-Dosa
Ketahuilah, semoga Allah merahmatiku dan dirimu, bahwa Allah telah
memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan ikhlas dan
telah menetapkan bahwa melakukannya (taubat) adalah kewajiban. Allah
berfirman:
malu atau penyesalan, dan tanpa rasa takut kepada Allah, dan dianggap remeh,
maka memungkinkan bahwa dosa-dosa itu akan dihitung sebagai dosa besar.
Oleh karena itu dikatakan kepadamu bahwa tidak ada dosa-dosa kecil yang
kecil bagimu dan tidak ada dosa besar yang besar bagimu jika engkau terus menerus
memohon ampun.
Maka kita katakan kepada orang-orang yang berada dalam kondisi seperti ini:
Jangan berpikir apakah ini dosa kecil atau dosa besar; Pikirkanlah Dia yang
engkau khianati.
Insya Allah perkataan ini akan memberikan manfaat kepada orang-orang yang
ikhlas, dan yang menyadari dosa-dosa dan kekurangannya, dan tidak terus menerus
melakukan kesalahan dan berpegang teguh kepada keimanan.
Kata-kata ini adalah untuk mereka yang beriman terhadap firman Allah:
pemikiran kita.
memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan ikhlas dan
telah menetapkan bahwa melakukannya (taubat) adalah kewajiban. Allah
berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan
nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS At-Tahrim [66] : 8)
Allah telah memberikan kita waktu untuk bertaubat sebelum kiraaman kaatibin (malaikat yang mulia yang mencatat amalan) mencatat amal-amal kita. Nabi bersabda:
saat sebelum ajal mendekatinya.
Persoalannya adalah banyak orang sekarang ini tidak menempatkan harapan
dan takut kepada Allah. Mereka mengkhianati-Nya dengan melakukan berbagai
macam dosa, siang dan malam. Ada diantara orang-orang yang dicoba dengan
pemikiran menganggap dosa-dosa sebagai sesuatu yang tidak signifikan,
sehingga engkau dapat melihat salah seorang diantara mereka menganggap
‘dosa-dosa kecil tertentu’ (saghaa’ir) tidak penting, sehingga dia mungkin
berkata, “Apa bahayanya jika saya melihat atau berjabat tangan dengan wanita
yang bukan mahram?” Mereka menganggap tidak apa-apa memandang wanita
dalam majalah atau pertunjukan TV. Sebagian diantara mereka, ketika
dikatakan kepada mereka bahwa ini haram akan bertanya dengan berkelakar,
“Lalu seberapa buruk hal itu? Apakah itu termasuk dosa besar atau dosa kecil?”
Bandingkanlah sikap ini dengan apa yang digambarkan dalam hadits yang
diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah.
Anas berkata: “Engkau melakukan hal-hal yang dimatamu terlihat lebih
ringan dari sehelai rambut, namun di masa Rasulullah kami menganggapnya
sebagai sesuatu yang dapat menghancurkan seseorang.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Seorang Mu’min menganggap dosa-dosanya seolaholah
dia duduk dibawa sebuah gunung yang dia takut gunung tersebut akan
jatuh menimpanya, sedangkan orang yang berdosa menganggap dosa-dosanya
seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya dan dia menepiskannya.”
Apakah orang-orang ini akan memahami keseriusan masalah ini jika mereka
membaca hadits Nabi berikut ini: “Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil
yang seringkali diremehkan, karena hal itu seperti sekelompok orang yang
singgah di dasar lembah. Salah seorang diantara mereka membawa sebuah
ranting, dan yang lainnya membawa sebuah ranting sampai mereka semua
mengumpulkan ranting-ranting yang cukup untuk memasak makanan mereka.
Dosa-dosa kecil ini akan membinasakan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad;
Shahih al-jami’, 2686-2687)
Para ulama berkata bahwa ketika dosa-dosa kecil diikuti oleh kurangnya rasa“Malaikat di sebelah kiri mengangkat penanya (yakni menunda untuk menulis) selama enam jam (ini mungkin berkenaan dengan waktu enam jam dari 60 menit perjam sebagaimana yang dihitung para atronom, atau dapat merujuk pada periode singkat di siang atau malam hari –Lisaan al-Arab) sebelum dia mencatat perbuatan dosa seorang Muslim. Jika dia menyesalinya dan memohon ampunan Allah, amal (buruk) itu tidak dicatat, selain itu maka akan dicatat sebagai satu amal (buruk).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Shu’ab al-Iman – Cabang-cabang Iman); dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah, 1209).Tenggang waktu lebih lanjut diberikan setelah amal tersebut tercatat, sampai
saat sebelum ajal mendekatinya.
Persoalannya adalah banyak orang sekarang ini tidak menempatkan harapan
dan takut kepada Allah. Mereka mengkhianati-Nya dengan melakukan berbagai
macam dosa, siang dan malam. Ada diantara orang-orang yang dicoba dengan
pemikiran menganggap dosa-dosa sebagai sesuatu yang tidak signifikan,
sehingga engkau dapat melihat salah seorang diantara mereka menganggap
‘dosa-dosa kecil tertentu’ (saghaa’ir) tidak penting, sehingga dia mungkin
berkata, “Apa bahayanya jika saya melihat atau berjabat tangan dengan wanita
yang bukan mahram?” Mereka menganggap tidak apa-apa memandang wanita
dalam majalah atau pertunjukan TV. Sebagian diantara mereka, ketika
dikatakan kepada mereka bahwa ini haram akan bertanya dengan berkelakar,
“Lalu seberapa buruk hal itu? Apakah itu termasuk dosa besar atau dosa kecil?”
Bandingkanlah sikap ini dengan apa yang digambarkan dalam hadits yang
diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah.
Anas berkata: “Engkau melakukan hal-hal yang dimatamu terlihat lebih
ringan dari sehelai rambut, namun di masa Rasulullah kami menganggapnya
sebagai sesuatu yang dapat menghancurkan seseorang.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Seorang Mu’min menganggap dosa-dosanya seolaholah
dia duduk dibawa sebuah gunung yang dia takut gunung tersebut akan
jatuh menimpanya, sedangkan orang yang berdosa menganggap dosa-dosanya
seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya dan dia menepiskannya.”
Apakah orang-orang ini akan memahami keseriusan masalah ini jika mereka
membaca hadits Nabi berikut ini: “Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil
yang seringkali diremehkan, karena hal itu seperti sekelompok orang yang
singgah di dasar lembah. Salah seorang diantara mereka membawa sebuah
ranting, dan yang lainnya membawa sebuah ranting sampai mereka semua
mengumpulkan ranting-ranting yang cukup untuk memasak makanan mereka.
Dosa-dosa kecil ini akan membinasakan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad;
Shahih al-jami’, 2686-2687)
malu atau penyesalan, dan tanpa rasa takut kepada Allah, dan dianggap remeh,
maka memungkinkan bahwa dosa-dosa itu akan dihitung sebagai dosa besar.
Oleh karena itu dikatakan kepadamu bahwa tidak ada dosa-dosa kecil yang
kecil bagimu dan tidak ada dosa besar yang besar bagimu jika engkau terus menerus
memohon ampun.
Maka kita katakan kepada orang-orang yang berada dalam kondisi seperti ini:
Jangan berpikir apakah ini dosa kecil atau dosa besar; Pikirkanlah Dia yang
engkau khianati.
Insya Allah perkataan ini akan memberikan manfaat kepada orang-orang yang
ikhlas, dan yang menyadari dosa-dosa dan kekurangannya, dan tidak terus menerus
melakukan kesalahan dan berpegang teguh kepada keimanan.
Kata-kata ini adalah untuk mereka yang beriman terhadap firman Allah:
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,’ (QS Al-Hijr [15] : 49)Dan firman-Nya:
Sangat penting untuk memegang pemahaman yang seimbang ini di dalam“dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS Al-Hijr [15] : 49)
pemikiran kita.
Posted in: Aku Ingin Bertaubat TetapiMinggu, 20 Februari 2011
Apakah Allah akan Mengampuniku?
Anda mungkin berkata,
Sebagai jawaban, saya hendak memberi tahu engkau bahwa ini bukanlah“Aku ingin bertaubat, namun dosa-dosaku sungguh teramat banyak. Tidak satupun kebejatan dan tidak satu jenis pun dosa, yang dapat dibayangkan atau selainnya, yang tidak aku lakukan. Sangat buruk sehingga aku tidak tahu apakah Allah akan mengampuniku untuk apa-apa yang telah aku lakukan selama beratahun-tahun.”
sebuah persoalan yang unik, persoalan ini juga banyak dialami oleh mereka
yang ingin bertaubat. Saya akan memberikan contoh seorang laki-laki muda
yang pernah mengajukan pertanyaan ini. Dia telah memulai perbuatan dosanya
dari usia yang masih sangat muda, dan ketika mencapai usia 17 tahun dia telah
memiliki catatan panjang melakukan berbagai macam kejahatan, besar dan
kecil, dengan semua orang, tua maupun muda. Dia bahkan telah menodai
seorang gadis kecil. Ditambah lagi daftar panjang pencurian (yang dia lakukan).
Kemudian dia berkata,
“Saya telah bertaubat kepada Allah, melakukan shalat tahajud di sebagian malam, berpuasa pada hari Senin dan Kamis, dan saya membaca Al-Qur’an setelah shalat Fajar. Akankah taubatku dapat memberikan suatu manfaat?”
Prinsip-prinsip petunjuk bagi kita Muslim adalah merujuk kepada Al-Qur’an dan
Sunnah ketika kita mencari hukum-hukum, pemecahan persoalan dan obat.
Ketika kita mengembalikan persoalan ini kepada Al-Qur’an, kita menemukan
bahwa Allah berfiman:
Sunnah ketika kita mencari hukum-hukum, pemecahan persoalan dan obat.
Ketika kita mengembalikan persoalan ini kepada Al-Qur’an, kita menemukan
bahwa Allah berfiman:
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya...” (QS Az-Zumar [39] : 53-54)
Inilah jawaban bagi persoalan ini. Hal ini cukup jelas dan tidak membutuhkan
penjelasan lebih lanjut.
Perasaan bahwa dosa-dosa seseorang terlalu besar untuk diampuni Allah lahir
dari beberapa faktor:
Tidak adanya iman pada diri seorang hamba akan luasnya rahmat Allah.
Kurangnya iman terhadap kemampuan Allah untuk mengampuni semua dosa.
Kurangnya amalan hati seseorang, yakni harap (raja’).
Tidak memahami pengaruh taubat dalam menghapus dosa-dosa.
Kami akan menjawab semua point di atas dibawah ini:
Cukuplah dengan mengutip firman Allah:
penjelasan lebih lanjut.
Perasaan bahwa dosa-dosa seseorang terlalu besar untuk diampuni Allah lahir
dari beberapa faktor:
Tidak adanya iman pada diri seorang hamba akan luasnya rahmat Allah.
Kurangnya iman terhadap kemampuan Allah untuk mengampuni semua dosa.
Kurangnya amalan hati seseorang, yakni harap (raja’).
Tidak memahami pengaruh taubat dalam menghapus dosa-dosa.
Kami akan menjawab semua point di atas dibawah ini:
Cukuplah dengan mengutip firman Allah:
“…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” (QS Al-A’raf [7] : 156)Cukuplah dengan mengutip hadits qudsi yang shahih: Allah berfirman:
“Barangsiapa yang mengetahui bahwa Aku dapat mengampuni semua dosa, Akuakan mengampuninya, dan Aku tidak perduli selama dia tidak menyekutukan sesuatu denganku.” (Diriwayatkan oleh At-Tabrani dalam Al-Kabir dan oleh Al- Hakim; Shahih Al-Jami’, 4330).
Hal ini mengenai hamba yang bertemu Allahpada Hari Kiamat.
Hal ini mungkin dapat mengobati dengan merujuk pada sebuah hadits qudsi:
““Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa kepadaku, dan berharap kepadaku, maka Aku akan memberikan pengampunan atas segala dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak perduli. Hai anak Adam! Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku pasti mengampunimu dan Aku tidak perduli. Hai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan-kesalahan hampir sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan pengampunan hampir sepenuh bumi pula.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi; Shahih Al-Jami’, 4338)Cukuplah dengan menukil hadits Nabi :
“Orang yang bertaubat dari dosanya seperti dia tidak berbuat dosa.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah; Shahih Al-Jami’, 3008).see more
http://raudhatulmuhibbin.org
Posted in: Aku Ingin Bertaubat Tetapi
Darklight
9:11:00 AM
Escaron






