cbox

Open Cbox

Rabu, 23 Februari 2011

Mereka Mengancamku

Engkau mungkin berkata, “Aku ingin bertaubat tetapi teman-teman lamaku
mengancam untuk membuka masa laluku dan menyebarkan rahasiaku
kepada semua orang. Mereka memiliki gambar-gambar dan surat-surat lain yang
dapat dipergunakan untuk melawanku. Aku khawatir akan reputasiku, dan aku
takut.”
Nasihat kami adalah: Lawanlah kembali sekutu-sekutu syaithan ini. Tipu daya
syaithan adalah lemah, dan semua tekanan yang dibawakan oleh para
penolong-penolong iblis terhadapmu akan hancur di hadapan kesabaran dan
kesungguhan seorang Mu’min sejati.
Engkau harus menyadari bahwa jika engkau mencoba untuk berdamai dengan
mereka, hal ini hanya akan memberi mereka lebih banyak bukti yang dapat
dipergunakan menghadapimu, dan engkau akan menjadi orang yang merugi
cepat atau lambat. Jangan berikan perhatian apapun kepada mereka, mintalahpertolongan kepada Allah untuk menghadapi mereka dan katakan: “Hasbi Allah
wa ni’mal wakil” (Allah sebaik-baik Pelindung bagiku, dan Dialah sebaik-baik
Penolong). Ketika Nabi  merasa takut terhadap suatu kaum, beliau berkata:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu untuk menangkap mereka pada lehernya, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud; lihat juga Shahih Al-Jami’, 4582)
Benar bahwa ini adalah keadaan yang sangat sulit. Ambillah contoh dari
seorang gadis yang telah bertaubat, tetapi bekas pacarnya meneleponnya dan
mengancamnya dengan berkata, “Aku telah merekam pembicaraan kita dan aku
mempunyai foto-fotomu. Jika kamu menolak untuk keluar denganku, maka aku
akan mempermalukanmu di hadapan keluargamu. Dia tentu saja berada pada
posisi yang tidak akan membuat iri (maksudnya orang lain tentu tidak ingin
berada pada situasi seperti itu –pent.).
Lihatlah bagaimana cara sekutu-sekutu syaithan mengerahkan perang psikis
terhadap para penyanyi, aktor, pria dan wanita, yang telah bertaubat. Mereka
menyebarluaskan produksi mereka sebelumnya di pasar, untuk menekan
mereka. Tetapi Allah menyertai orang-orang yang takut kepada-Nya dan orangorang
yang bertaubat. Dia adalah teman dan penolong orang-orang Mu’min. Dia
tidak akan mengabaikan atau meninggalkan mereka. Tidak pernah seseorang
yang memohon perlindungan-Nya ditolak. Ingatlah bahwa bersama dengan
kesukaran ada kemudahan dan dalam kesulitan ada jalan keluar.
Kisah yang menyentuh berikut ini memberikan kesaksian yang jelas dalam
mendukung apa yang telah kita katakan. Ini adalah kisah kepahlawanan sahabat
yang mulia Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi, yang menolong orang-orang
Muslim yang tertindas pergi dari Makkah menuju Madinah secara sembunyisembunyi.
Ada seorang laki-laki yang dipanggil Marthad bin Abi Marthad yang biasa
menyelundupkan tawanan perang Muslim dari Makkah ke Madinah. Ada seorang
pelacur di Makkah bernama ‘Aanaq, yang dulunya merupakan teman Marthad.
Martahd berjanji untuk membawa salah seorang tawanan dari Makkah ke
Madinah. Dia berkata, “Aku tiba pada bayangan salah satu kebun Makkah pada
malam purnama, kemudian ‘Aanaq datang dan melihat bayanganku di kebun.
Ketika dia menemuiku, dia mengenaliku dan berkata. “Marthad?” Aku berkata,
“Marthad.” Dia berkata, “Selamat datang! Kemarilah dan tinggallah bersama
kami malam ini.” Aku berkata, “Wahai ‘Aanaq, Allah telah mengharamkan
zina.” Dia berteriak, “Hai orang-orang di dalam kemah! Orang ini hendak
membawa lari tawananmu!” Delapan orang laki-laki mengejarku, dan aku
memanjat Al-Khandamah (sebuah gunung diluar salah satu pintu masuk menuju Makkah) dan bersembunyi di sebuah gua. Mereka datang dan berdiri tepat di
atasku, tetapi Allah membutakan mereka dan mereka tidak melihatku, lalu
mereka pergi. Aku kembali kepada sahabatku (tawanan yang hendak dibawa ke
Madinah) dan mengangkatnya dan dia adalah laki-laki yang gemuk. Ketika kami
sampai di Al-Udzkhar, aku membebaskan dia dari rantai yang mengikatnya. Dan
kemudian aku membawanya lagi dan perjalanan itu sangat sulit. Ketika aku
sampai di Madinah, aku mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah,
haruskah aku menikahi ‘Aanaq?” Aku bertanya kepada beliau dua kali.
Rasulullah tetap diam dan tidak menjawabku, sampai diturunkan ayat:
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina,
atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini
melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian
itu diharamkan atas orang-orang yang mu'min.” (QS An-Nuur [24] : 3)
Rasulullah berkata, 
“Wahai Marthad, laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau yang musryrik, dan perempuan berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Jangan kawini dia.” Shahih Sunan At-Tirmidzi, 3/80).
Apakah engkau melihat bagaimana Allah melindungi orang-orang beriman dan
bagaimana Dia menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan?
Namun jika yang terburuk datang pada yang terburuk, dan apa yang engkau
takutkan terjadi – mereka menyebarluaskan keburukan tentang dirimu – apa
yang perlu engkau lakukan adalah bersikap jujur dan menjelaskan keadaanmu
kepada orang lain. Katakan kepada mereka, “Ya, aku dahulu adalah seorang
pelaku maksiat, namun sekarang aku telah bertaubat. Lalu apa yang kalian
inginkan?”
Kita semua harus mengingat bahwa kehinaan yang sebenarnya akan muncul
tidak di dunia ini, tetapi pada Hari Kiamat, pada Hari Perhitungan, Hari
Kehinaan yang besar, tidak dihadapan satu atau dua ratus orang, tidak
dihadapan seribu atau dua ribu orang, namun dihadapan seluruh mahluk,
malaikat, jin, dan manusia, semua manusia dari Adam sampai yang terakhir.Marilah mengingat doa Nabi Ibrahim :
“dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di
hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS Asy-Syu’ara [26] : 87-89)
Pada saat-saat tertekan, mohonlah pertolongan dengan doa Nabi :
Allahumma stur ‘auraatuna wa aamin rauaatuna. Allahumma aj’al tha’ranaa ‘ala man
zalamanana wansurna ‘ala man baghiya ‘alaynaa. Allahumma laa tushammit
binaa’-a’daa wa laa’l-hasidiin. 
(Ya Allah, tutupilah kesalahanku dan tenangkanlah ketakutanku. Ya Allah balaskanlah kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan Berikanlah kami kemenangan atas orang-orang yang menyalahi kami. Ya Allah janganlah jadikan penyebab bagi musuh-musuh kami atau orang-orang yang membenci kami bergembira atas kemalangan kami).”

Selasa, 22 Februari 2011

Orang-orang Jahat Mengejarku

engkau mungkin berkata, “Aku ingin bertaubat, tetapi teman-teman jahat
mengejarku kemanapun aku pergi. Segera setelah mereka mengetahui ada
perubahan yang kuperbuat, mereka menyerangku dan aku merasa terlalu lemah
untuk melawan mereka. Apa yang dapat aku lakukan?”
Jawaban kami adalah: Hadapilah dengan kesabaran, karena demikianlah
memberikan cobaan terhadap hamba-Nya yang ikhlas, sehingga Dia dapat yang
benar dan yang berdusta, yang baik dan yang buruk.
Setelah mengambil langkah pertama di atas jalan yang lurus, teguhkan dan
pertahankanlah. Orang-orang ini adalah syaithan dari kalangan manusia dan jin
yang akan tolong-menolong satu dengan yang lainnya untuk menyesatkanmu
dari jalan itu. Jangan perhatikan mereka. Pada tahap awal, mereka akan
mengatakan kepadamu bahwa ini hanyalah khayalan sesaat, krisis sementara
kepada Allah untuk menghadapi mereka dan katakan: “Hasbi Allah
wa ni’mal wakil” (Allah sebaik-baik Pelindung bagiku, dan Dialah sebaik-baik
Penolong). Ketika Nabi  merasa takut terhadap suatu kaum, beliau berkata:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu untuk menangkap mereka pada lehernya,
dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (Diriwayatkan oleh
Ahmad dan Abu Dawud; lihat juga Shahih Al-Jami’, 4582)
Benar bahwa ini adalah keadaan yang sangat sulit. Ambillah contoh dari
seorang gadis yang telah bertaubat, tetapi bekas pacarnya meneleponnya dan
mengancamnya dengan berkata, “Aku telah merekam pembicaraan kita dan aku
mempunyai foto-fotomu. Jika kamu menolak untuk keluar denganku, maka aku
akan mempermalukanmu di hadapan keluargamu. Dia tentu saja berada pada
posisi yang tidak akan membuat iri (maksudnya orang lain tentu tidak ingin
berada pada situasi seperti itu –pent.).
Lihatlah bagaimana cara sekutu-sekutu syaithan mengerahkan perang psikis
terhadap para penyanyi, aktor, pria dan wanita, yang telah bertaubat. Mereka
menyebarluaskan produksi mereka sebelumnya di pasar, untuk menekan
mereka. Tetapi Allah menyertai orang-orang yang takut kepada-Nya dan orangorang
yang bertaubat. Dia adalah teman dan penolong orang-orang Mu’min. Dia
tidak akan mengabaikan atau meninggalkan mereka. Tidak pernah seseorang
yang memohon perlindungan-Nya ditolak. Ingatlah bahwa bersama dengan
kesukaran ada kemudahan dan dalam kesulitan ada jalan keluar.
Kisah yang menyentuh berikut ini memberikan kesaksian yang jelas dalam
mendukung apa yang telah kita katakan. Ini adalah kisah kepahlawanan sahabat
yang mulia Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi, yang menolong orang-orang
Muslim yang tertindas pergi dari Makkah menuju Madinah secara sembunyisembunyi.
Ada seorang laki-laki yang dipanggil Marthad bin Abi Marthad yang biasa
menyelundupkan tawanan perang Muslim dari Makkah ke Madinah. Ada seorang
pelacur di Makkah bernama ‘Aanaq, yang dulunya merupakan teman Marthad.
Martahd berjanji untuk membawa salah seorang tawanan dari Makkah ke
Madinah. Dia berkata, “Aku tiba pada bayangan salah satu kebun Makkah pada
malam purnama, kemudian ‘Aanaq datang dan melihat bayanganku di kebun.
Ketika dia menemuiku, dia mengenaliku dan berkata. “Marthad?” Aku berkata,
“Marthad.” Dia berkata, “Selamat datang! Kemarilah dan tinggallah bersama
kami malam ini.” Aku berkata, “Wahai ‘Aanaq, Allah telah mengharamkan
zina.” Dia berteriak, “Hai orang-orang di dalam kemah! Orang ini hendak
membawa lari tawananmu!” Delapan orang laki-laki mengejarku, dan aku
memanjat Al-Khandamah (sebuah gunung diluar salah satu pintu masuk menuju Makkah) dan bersembunyi di sebuah gua. Mereka datang dan berdiri tepat di
atasku, tetapi Allah membutakan mereka dan mereka tidak melihatku, lalu
mereka pergi. Aku kembali kepada sahabatku (tawanan yang hendak dibawa ke
Madinah) dan mengangkatnya dan dia adalah laki-laki yang gemuk. Ketika kami
sampai di Al-Udzkhar, aku membebaskan dia dari rantai yang mengikatnya. Dan
kemudian aku membawanya lagi dan perjalanan itu sangat sulit. Ketika aku
sampai di Madinah, aku mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah,
haruskah aku menikahi ‘Aanaq?” Aku bertanya kepada beliau dua kali.
Rasulullah  tetap diam dan tidak menjawabku, sampai diturunkan ayat:

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina,
atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini
melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian
itu diharamkan atas oran-orang yang mu'min.” (QS An-Nuur [24] : 3)
Rasulullah berkata,
“Wahai Marthad, laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau yang musryrik, dan perempuan berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Jangan kawini dia.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 3/80).
Apakah engkau melihat bagaimana Allah melindungi orang-orang beriman dan
bagaimana Dia menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan?
Namun jika yang terburuk datang pada yang terburuk, dan apa yang engkau
takutkan terjadi – mereka menyebarluaskan keburukan tentang dirimu – apa
yang perlu engkau lakukan adalah bersikap jujur dan menjelaskan keadaanmu
kepada orang lain. Katakan kepada mereka, “Ya, aku dahulu adalah seorang
pelaku maksiat, namun sekarang aku telah bertaubat. Lalu apa yang kalian
inginkan?”
Kita semua harus mengingat bahwa kehinaan yang sebenarnya akan muncul
tidak di dunia ini, tetapi pada Hari Kiamat, pada Hari Perhitungan, Hari
Kehinaan yang besar, tidak dihadapan satu atau dua ratus orang, tidak
dihadapan seribu atau dua ribu orang, namun dihadapan seluruh mahluk,
malaikat, jin, dan manusia, semua manusia dari Adam  sampai yang terakhir.
Marilah mengingat doa Nabi Ibrahim :
“dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS Asy-Syu’ara [26] : 87-89)
Pada saat-saat tertekan, mohonlah pertolongan dengan doa Nabi :
Allahumma stur ‘auraatuna wa aamin rauaatuna. Allahumma aj’al tha’ranaa ‘ala man zalamanana wansurna ‘ala man baghiya ‘alaynaa. Allahumma laa tushammit binaa’-a’daa wa laa’l-hasidiin. (Ya Allah, tutupilah kesalahanku dan
tenangkanlah ketakutanku. Ya Allah balaskanlah kami atas orang-orang yang
menganiaya kami, dan Berikanlah kami kemenangan atas orang-orang yang
menyalahi kami. Ya Allah janganlah jadikan penyebab bagi musuh-musuh kami
atau orang-orang yang membenci kami bergembira atas kemalangan kami).”

Haruskah Aku Mengaku Dosa?

seseorang berkata dengan penuh kesedihan, “Aku ingin bertaubat, namun
apakah aku harus pergi dan mengakui dosa-dosa yang telah aku lakukan?
Apakah ini syarat untuk bertaubat bahwa aku harus memberitahu hakim (qadhi)
di pengadilan mengenai segala hal yang telah aku lakukan, dan memintanya
untuk melaksanakan hukuman yang pantas kepadaku? Apa makna dari kisah
yang baru saja aku baca mengenai taubat Ma’iz dan wanita Ghamidi dan
tentang laki-laki yang mencium seorang wanita di sebuah taman?”
Jawabanku terhadapmu adalah bahwa seorang hamba berhubungan langsung
dengan Allah, tanpa perantara, merupakan salah satu aspek yang paling
penting dalam iman terhadap Tauhid yang dengannya Allah ridhai. Allah
berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku,” (QS Al-Baqarah [2] : 186)

Jika kita meyakini bahwa taubat hanya kepada Allah, maka pengakuan pun
hanya kepada Allah. Bahkan Nabi mengucapkan dalam doanya memohon
ampunan:

“…aku mengakui kepada-Mu nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku kepada-Mu…” (HR Bukhari). Ini adalah pengakuan kepada Allah.

Demi kemuliaan Allah, kita tidak seperti orang-orang Kristen, dengan pendeta,
tempat pengakuan dosa, dokumen pengampunan, dan lain-lain.
Sungguh, Allah telah berfirman:

“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hambahamba-Nya…” (QS At-Taubah [9] : 104)
Dia menerima taubat hamba-Nya tanpa mediator atau perantara.
Adapun menerima hukuman, jika amalan (dosa) itu tidak mendapat perhatian
resmi dari Imam, penguasa, atau qadhi, seseorang tidak perlu datang kepada
mereka dan mengakuinya. Jika Allah telah menutupi dosa seseorang, tidak
mengapa baginya menutupi dosanya sendiri. Cukup baginya bertaubat kepada
Allah, dan perkaranya antara dia dengan Tuhannya. Salah satu nama Allah
adalah As-Sittir, berarti Dia yang Maha Menutupi atau menyembunyikan
(kesalahan hamba-Nya), dan Dia menyukai hamba-Nya untuk
menyembunyikannya. Mengenai sahabat Ma’iz, wanita Ghamidi dan laki-laki
yang mencium gadis di taman, mereka semua melakukan sesuatu yang tidak
diwajibkan atas mereka untuk dilakukan, semoga Allah meridhai mereka
semuanya, karena mereka sangat ingin mensucikan diri mereka. Dalil untuk hal
ini adalah kenyataan bahwa Nabi  berpaling, dari Ma’iz dan dari wanita
Ghamidi pada awalnya. Ketika Umar berkata kepada laki-laki yang telah
mencium gadis di taman, “Allah telah menutupi dosanya. Seharusnya dia
sendiri menutupi dosanya,” Nabi  tetap diam, menunjukkan bahwa beliau
setuju dengan perkataan itu.
Maka tidak perlu pergi ke pengadilan dan mendaftarkan pengakuan resmi, jika
Allah telah menutupi dosa seseorang. Juga tidak perlu datang kepada imam
sebuah masjid untuk meminta kepadanya melaksanakan hukuman yang sesuai,
atau meminta seorang kawan untuk melaksanakan hukuman cambuk di dalam
rumah, sebagaimana yang dibayangkan sebagian orang.
Kisah berikut ini akan mengajarkan kepadamu bagaimana pentingnya bersikap
hati-hati terhadap sikap sebagian orang yang jahil terhadap orang-orang yang
bertaubat; seorang laki-laki yang ingin bertaubat datang kepada seorang imam
masjid yang jahil, mengakui dosa kepadanya dan bertanya apa yang harus dia
lakukan. Imam itu berkata, “Pergilah ke pengadilan dan akuilah dosamu secara
resmi. Mereka akan melaksanakan hukuman yang sesuai kepadamu. Kemudian
kita akan lihat apa yang akan kita lakukan setelahnya.” Laki-laki yang malang
ini menyadari bahwa dia tidak dapat melakukan hal ini, sehingga ia melupakan
niatnya untuk bertaubat dan kembali kepada jalan yang dulu ditempuhnya.
Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk menambahkan sebuah komentar
yang penting; mengetahui hukum-hukum Islam, dan mencarinya melalui
sumber-sumber yang benar adalah yang terpercaya. Allah berfirman:

“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS An-Nah [16] : 43)

“(Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” (QS Al-Furqan [25] : 59)

Tidak semua khatib (imam) memiliki kemampuan untuk mengeluarkan fatwa.
Tidak semua imam, muadzin, penceramah atau penutur kisah, memiliki
kemampuan untuk menjalankan hukum kepada manusia. Tetapi seorang Muslim
bertanggung jawab untuk mengetahui darimana dia dapat mengambil hukum.
Ini adalah perkara penting dalam agama. Nabi  takut terhadap apa yang akan
menimpa umatnya di tangan imam yang sesat. Salah seorang salaf berkata:
“Ilmu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambil
agamamu.” Berhati-hatilah terhadap perangkap ini, dan hanya berkonsultasi
kepada ulama yang terpercaya jika engkau berada dalam keraguan mengenai
sebuah perkara. Wallahu musta’an.


Darklight

 
Design by Wordpress Themes | Bloggerized by Free Blogger Templates | Macys Printable Coupons